Kompas. 1.id.
Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) VIII yang digelar oleh Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Bandung kembali menjadi panggung penting bagi santri madrasah diniyah untuk menunjukkan bakat di bidang akademik, seni Islami, dan olahraga. Kegiatan berlangsung di Gd Ormas, Sabtu ( 19/9/26 ).
Acara dibuka oleh H. Asep Saefuloh, S.Ag, dalam sambutannya menyampaikan ajang dua tahunan ini tidak hanya mempertandingkan keterampilan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi antarsantri, guru, dan pengurus madrasah diniyah di tingkat kabupaten.
Kegiatan Porsadin VIII kali ini diikuti ratusan santri dari berbagai kecamatan, d Mereka bersaing dalam belasan cabang lomba yang mencakup aspek keagamaan, seni, dan olahraga, seperti tahfidz Juz Amma, Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK), cerdas cermat diniyah, pidato dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, MTQ, murotal wal imla, kaligrafi, puisi islami, selawat dan adzan serta olahraga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
H. Asep Saefuloh, menekankan bahwa Porsadin bukan sekadar ajang mencari juara, melainkan juga wadah untuk menggali bibit unggul yang akan dipersiapkan mewakili kabupaten di tingkat provinsi hingga nasional.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk menggali serta mengembangkan potensi santri dalam berbagai bidang, baik olahraga maupun seni. Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya dituntut untuk meraih kemenangan, tetapi juga belajar menjunjung tinggi sportivitas, kejujuran, kerja sama, tanggung jawab, dan sikap saling menghormati.
Menurutnya, Anak-anak peserta PORSADIN adalah aset dan calon pemimpin masa depan Kabupaten Bandung. Karena itu, mereka harus diberikan ruang yang luas untuk berkembang, menunjukkan kemampuan, dan membangun rasa percaya diri.
” Kekalahan maupun kemenangan dalam perlombaan harus dijadikan pengalaman untuk terus belajar dan berproses,” katanya.
Asep Saefuloh, mengajak seluruh peserta untuk menjadikan PORSADIN VIII sebagai pengalaman berharga. Para santri diharapkan mampu membawa nilai-nilai positif yang diperoleh selama kegiatan ke lingkungan keluarga, sekolah, pesantren, dan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya diukur dari jumlah medali atau prestasi yang diraih, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu memberikan dampak positif terhadap pembentukan kepribadian peserta. Oleh karena itu, ia berharap PORSADIN dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan dengan
Dengan diselenggarakannya Porsadin VIII ini, FKDT berharap madrasah diniyah semakin diakui sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan daerah. Melalui ajang ini, santri tidak hanya ditembakkan imannya, tetapi juga dilatih untuk percaya diri, disiplin, dan berprestasi di berbagai bidang—sebuah modal berharga bagi masa depan mereka di tengah masyarakat.
Dhany.











