Lumbung Mataraman DIY Salurkan Pembiayaan Produktif Rp9,17 Miliar bagi 120 Pelaku Usaha: Wujudkan Ekosistem Ekonomi dan Pangan Berkelanjutan

- Penulis

Rabu, 22 Juli 2026 - 01:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas1.id
GUNUNGKIDUL, 22 Juli 2026 – Program Penguatan Ekosistem Ekonomi Produktif Lumbung Mataraman terus membuahkan hasil nyata dalam memperkokoh struktur ekonomi tingkat kalurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui sinergi kuat antara Pemerintah Daerah DIY, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) DIY, Bank BPD DIY, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, dan Bank Indonesia DIY, program ini sukses menyalurkan pembiayaan produktif senilai Rp9,17 miliar. Bantuan tersebut telah dinikmati oleh 120 pelaku usaha yang tersebar di empat kalurahan percontohan sepanjang tahun 2026.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat dalam mengelola usaha, mendongkrak daya saing produk lokal, serta memperluas akses terhadap sumber pendanaan yang sehat dan berkelanjutan.

Dalam pandangannya, Lumbung Mataraman tidak sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan pangan konvensional, melainkan sebuah sistem sosial-produktif yang berakar pada kearifan lokal: “nandur apa sing dipangan, mangan apa sing ditandur” (menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam).

“Lumbung Mataraman adalah lumbung pangan hidup. Di dalamnya terdapat ikhtiar untuk mendekatkan kembali sumber pangan kepada keluarga. Falsafah tersebut mengajarkan kemandirian, kecukupan, kedekatan dengan alam, serta tanggung jawab untuk merawat sumber kehidupan,” ujar Ni Made saat memberikan keterangan di lokasi Lumbung Mataraman Bendung, Kapanewon Semin, Gunungkidul, pada Selasa (21/7).

Lebih lanjut dijelaskan, prinsip tersebut diwujudkan melalui berbagai upaya nyata, mulai dari penguatan kemandirian pangan keluarga, diversifikasi konsumsi berbasis pangan lokal, pelestarian sumber daya genetik pangan, pengembangan kebun bibit, hingga pemanfaatan pekarangan secara optimal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, istilah “lumbung” dalam program ini dimaknai secara luas sebagai sebuah ekosistem terpadu yang menjembatani aspek pangan, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.

MULYOKO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sensasi Klip Konser Panggung: Ritual atau Sekadar Estetika Seni Panggung?
Rumput Kering dan Dapuran Bambu Terbakar di Lahan Kosong Kajen, Api Dipadamkan dalam Satu Jam
UPTD DALDUKPPA Luncurkan Program DAHSYAT: Dapur Sehat Atasi Stunting di Tingkat Keluarga
Kapal Virgo 8 Hilang Kontak di Laut Jawa, 130 Penumpang Masih Dalam Pencarian
Langkah Kecil untuk Masa Depan Arabela, Polres Pekalongan Dampingi Balita Kaki Bermasalah
Gebyar Maulid Nabi di Kampung Kertasari Garut, Warga Bersatu Santuni Yatim Piatu dan Lansia
FAJAR SHIDIK KOBARKAN SEMANGAT KEBANGKITAN PPP 2029 : “BERJUANG UNTUK UMAT”.
Haru Menyelimuti Pemakaman Kanaya Vokalis Emka 9, Gubernur Dedi Mulyadi Ikut Menggotong Keranda
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 04:29 WIB

Sensasi Klip Konser Panggung: Ritual atau Sekadar Estetika Seni Panggung?

Senin, 14 September 2026 - 03:47 WIB

Rumput Kering dan Dapuran Bambu Terbakar di Lahan Kosong Kajen, Api Dipadamkan dalam Satu Jam

Senin, 14 September 2026 - 03:25 WIB

UPTD DALDUKPPA Luncurkan Program DAHSYAT: Dapur Sehat Atasi Stunting di Tingkat Keluarga

Senin, 14 September 2026 - 03:16 WIB

Kapal Virgo 8 Hilang Kontak di Laut Jawa, 130 Penumpang Masih Dalam Pencarian

Minggu, 13 September 2026 - 23:19 WIB

Langkah Kecil untuk Masa Depan Arabela, Polres Pekalongan Dampingi Balita Kaki Bermasalah

Berita Terbaru