Kompas. 1. Id.
Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung melalui Satker Disdik Kecamatan Soreang menggelar, Festival Tunas Bahasa Ibu ( FTBI ) berlangsung, di Gedung PKG Soreang, Selasa ( 15/9/26 ). Kegiatan ini
sebagai ajang revitalisasi dan pelestarian bahasa serta sastra daerah di kalangan generasi muda, dengan menjadikan mereka sebagai penutur aktif bahasa daerah dan membangun kecintaan serta kebanggaan terhadap kekayaan budaya bangsa melalui kegiatan yang menyenangkan.
” Hasil seleksi ini khususnya para juara semoga bisa berprestasi meraih juara di tingkat kabupaten bandung. Semoga tahun 2026 Soreang dapat meraih juara umum kembali” , ucap Yono Suryono Pengawas Disdik Soreang saat pembukaan.
FTBI tingkat Kecamatan Soreang 2026, melombakan 7 cabang pasanggiri, :
1. Ngadongéng – 15 putra sareng 27 putri;
2. Biantara – 15 putra sareng 23 putri;
3. Maca Sajak – 23 putra 32 putri;
4. Nembang Pupuh – 15 putra sareng 26 putri;
5. Maca Nulis Aksara Sunda – 14 putra sareng 18 putri;
6. Ngarang Carita Pondok – 14 putra 15 putri;
7. Ngabodor Sorangan – 15 putra 15 putri.
Dengan total peserta 267 orang siswa , 111 putra dan 156 putri ujar Nono Tarsono ketua pelaksana dalam laporan pembukaan kegiatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan tersebut berlangsung selama satu hari dan mendatangkan juri sebagai tim penilai yang profesional dibidangnya dengan tujuan proses seleksi berlangsung objektif. Dari seleksi tingkat kecamatan ini akan di tandingkan untuk tingkat kabipaten bandung pada 23 september nanti.
Melalui FTBI, anak-anak diajak belajar dengan cara yang menyenangkan. Mereka tidak hanya berkompetisi, tetapi juga bergembira, berekspresi, dan saling belajar dari teman sebaya. Dukungan guru pendamping dan orang tua turut memperkuat atmosfer positif ini, menunjukkan bahwa pelestarian bahasa ibu adalah tanggung jawab bersama.
Lebih dari itu, FTBI menjadi media pembelajaran yang efektif bagi generasi muda. Anak-anak diajak memahami bahwa bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi budaya yang membentuk identitas mereka.
Dengan mencintai bahasa daerah, mereka turut menjaga keberlangsungan warisan budaya agar tidak punah ditelan zaman.
Harapan besar tertumpu pada kegiatan ini: agar bahasa ibu tetap hidup, terus dituturkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
” Melalui FTBI, anak-anak tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi juga menjadi duta pelestari bahasa dan budaya daerah di masa depan.” Pungkasnya.











