Kompas1.id
BANDUNG 21 Juni JAYAGIRI — Wilayah Jayagiri di kaki Gunung Tangkuban Parahu kembali menjadi pusat spiritualitas Nusantara. Pada Minggu, 21 Juni 2026, upacara adat Ngertakeun Bumi Lamba sukses digelar dengan penuh khidmat. Memasuki tahun pelaksanaan yang ke-18 secara berturut-turut, ritual agung ini menjadi momentum penting
pertemuan lintas suku, ras, agama, dan budaya di Indonesia untuk mengekspresikan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia alam semesta.
Tahun ini, upacara mengusung tema kosmologis yang mendalam, yaitu “Manik Maya” (Penyelarasan Hukum Langit dan Kasih Ibu Bumi), yang diselaraskan dengan tuntunan naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian. Berdasarkan dokumen resmi undangan kegiatan acara ini dihadiri oleh sekitar 3.000 jiwa yang terdiri dari masyarakat adat Nusantara, pemuka spiritual, relawan, hingga pengunjung umum.
Kehadiran Tokoh Spiritual dan Pupuhu Nusantara
Upacara adat ini terasa sangat istimewa karena dihadiri oleh jajaran tokoh spiritual terkemuka dan pupuhu (pemimpin adat) dari berbagai penjuru daerah. Di antara para hadirin, tampak tokoh spiritual Jawa Barat seperti Luqy Hendrawan (Bah Uci) dan Budi Setiawan (Budi Dalton) yang terus konsisten mengawal kelestarian budaya Sunda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak kalah menarik perhatian, Panglima Jilah, pemimpin besar dari Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) Kalimantan, juga turut hadir langsung di lokasi upacara. Kehadiran beliau yang mengenakan atribut adat khas Dayak dengan rajah (tato) tradisional yang sarat makna spiritual tertangkap kamera dalam dokumentasi kegiatan menunjukkan kuatnya tali silaturahmi antarmasyarakat adat lintas pulau di Nusantara.
Sinergi Kemanusiaan: Peran Vital Lendeng Fast Rescue
Di balik khidmat dan sakralnya acara, aspek keselamatan ribuan massa yang hadir menjadi prioritas utama dewan pelaksana. Untuk itu, organisasi kemanusiaan Lendeng Fast Rescue secara resmi diundang oleh Panggelar Ngertakeun Bumi Lamba untuk menjalin kemitraan taktis.
”Kami mengundang jajaran Lendeng Fast Rescue untuk hadir, berpartisipasi aktif, sekaligus menjalin kemitraan taktis kemanusiaan guna mengawal aspek keselamatan, mitigasi darurat, dan penanganan medis lapangan,” tulis Rakean Radite Wiranatakusumah selaku Ketua Pelaksana dalam surat undangannya
Sebagai bentuk dedikasi nyata, Lendeng Fast Rescue menerjunkan personel terbaiknya lengkap dengan 2 armada ambulans taktis Daihatsu Gran Max hitam bernomor polisi D 8274 LD, yang bersiap siaga di medan perbukitan Jayagiri
Para relawan Lendeng Fast Rescue yang mengenakan seragam hitam dan oranye khas mereka tampak membaur erat dengan para tokoh adat dan peserta . Sinergi ini membuktikan bahwa pelestarian tradisi leluhur dan kesiapsiagaan kemanusiaan modern dapat berjalan beriringan demi menjaga keharmonisan di atas Ibu Pertiwi.
Melalui pengawalan ketat dari tim rescue dan berkah dari para sesepuh, perayaan Ngertakeun Bumi Lamba 2026 berjalan dengan aman, tertib, dan memancarkan kembali semangat persatuan Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya. BOB HARIAWAN. KABIRO KOTA BANDUNG














