kompas1.id
Narasumber: Sonie Mandalajati
Tanggal: 28 Juli 2026
”Di kala dunia modern sering kali dihantui ketidakpastian krisis pangan global, sebuah ‘lembur singkur’ di sisi gunung telah lama merumuskan kedaulatan pangan sejati yang berakar dari kearifan leluhur.”
Pengantar Redaksi
Ketahanan pangan bukanlah sekadar wacana di atas kertas atau proyek kebijakan jangka pendek yang sarat kepentingan industri. Jauh sebelum istilah-istilah modern ekonomi makro diperkenalkan, para leluhur Nusantara telah mewariskan sebuah sistem ketahanan sosial dan pangan yang sangat kokoh, teruji oleh zaman, dan selaras dengan alam. Hal inilah yang disaksikan dan disuarakan oleh pemerhati budaya dan penggiat budaya Sonie Mandalajati, tatkala mengunjungi perkampungan adat di lereng gunung.
Arsitektur Ketahanan: Filosofi di Balik Leui
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemandangan yang menyambut di kampung adat tersebut menghadirkan decak kagum sekaligus kontemplasi mendalam. Setiap rumah di sana dilengkapi dengan minimal dua buah leuit (lumbung padi tradisional). Leuit bukan sekadar tempat penyimpanan hasil panen, melainkan simbol kearifan ekologis dan manajemen risiko sosial yang visioner.
”Lembur singkur sisi gunung… Setiap rumah memiliki minimal 2 leuit/lumbung dan persedian padi di kampung adat ini bisa untuk 200 tahun ke depan bahkan lebih, sangat luar biasa swasembada pangan. Negara kita harus belajar dari anak negeri di kampung adat.”
— Sonie Mandalajati
Kemampuan menyimpan cadangan pangan hingga ratusan tahun ke depan membuktikan bahwa masyarakat adat tidak hidup untuk hari esok saja, melainkan memikirkan keberlangsungan generasi demi generasi. Ini adalah bentuk swasembada pangan mandiri yang otonom, tidak bergantung pada fluktuasi pasar global, pupuk kimia sintetis, atau rantai pasok industri yang rapuh.
Belajar dari Anak Negeri di Kampung Adat
Sudah saatnya negara dan kita semua berkaca ke dalam. Modernitas sering kali membuat kita silau oleh kemajuan artifisial, sementara nilai-nilai luhur yang berkelanjutan justru terpinggirkan. Kampung adat mengajarkan bahwa harmoni antara manusia, tanah, dan Sang Pencipta adalah kunci utama kelangsungan hidup. Ketika alam dijaga, ia akan memberikan hasil yang melimpah untuk menopang kehidupan manusia.
Mempertahankan ajaran leluhur bukanlah bentuk sikap anti-kemajuan, melainkan bentuk kebijaksanaan tertinggi untuk menyaring modernitas agar tidak kehilangan jati diri. Menjaga tradisi menanam, merawat lumbung, dan memuliakan padi adalah wujud nyata nasionalisme kultural yang patut diteladani oleh seluruh elemen bangsa.
#BumiDega #leuit #lumbung #kampungadat #ciptagelar #gelaralam #swasembadapangan #kearifanlokal #budayasunda #ketahananpangan#kampungtapitidakKampungan# Bob Hariawan. KABIRO KOTA BANDUNG














