Menjaga Leuit, Merawat Masa Depan: Pelajaran Swasembada Pangan dari Kampung Adat

- Penulis

Selasa, 28 Juli 2026 - 02:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

kompas1.id

Narasumber: Sonie Mandalajati
Tanggal: 28 Juli 2026
​”Di kala dunia modern sering kali dihantui ketidakpastian krisis pangan global, sebuah ‘lembur singkur’ di sisi gunung telah lama merumuskan kedaulatan pangan sejati yang berakar dari kearifan leluhur.”
​Pengantar Redaksi

​Ketahanan pangan bukanlah sekadar wacana di atas kertas atau proyek kebijakan jangka pendek yang sarat kepentingan industri. Jauh sebelum istilah-istilah modern ekonomi makro diperkenalkan, para leluhur Nusantara telah mewariskan sebuah sistem ketahanan sosial dan pangan yang sangat kokoh, teruji oleh zaman, dan selaras dengan alam. Hal inilah yang disaksikan dan disuarakan oleh pemerhati budaya dan penggiat budaya Sonie Mandalajati, tatkala mengunjungi perkampungan adat di lereng gunung.
​Arsitektur Ketahanan: Filosofi di Balik Leui

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemandangan yang menyambut di kampung adat tersebut menghadirkan decak kagum sekaligus kontemplasi mendalam. Setiap rumah di sana dilengkapi dengan minimal dua buah leuit (lumbung padi tradisional). Leuit bukan sekadar tempat penyimpanan hasil panen, melainkan simbol kearifan ekologis dan manajemen risiko sosial yang visioner.
​”Lembur singkur sisi gunung… Setiap rumah memiliki minimal 2 leuit/lumbung dan persedian padi di kampung adat ini bisa untuk 200 tahun ke depan bahkan lebih, sangat luar biasa swasembada pangan. Negara kita harus belajar dari anak negeri di kampung adat.”

Baca Juga:  Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman Digelar di Pantai Glagah, Perkuat Nilai Luhur dan Keselarasan dengan Alam

— Sonie Mandalajati
​Kemampuan menyimpan cadangan pangan hingga ratusan tahun ke depan membuktikan bahwa masyarakat adat tidak hidup untuk hari esok saja, melainkan memikirkan keberlangsungan generasi demi generasi. Ini adalah bentuk swasembada pangan mandiri yang otonom, tidak bergantung pada fluktuasi pasar global, pupuk kimia sintetis, atau rantai pasok industri yang rapuh.

​Belajar dari Anak Negeri di Kampung Adat
​Sudah saatnya negara dan kita semua berkaca ke dalam. Modernitas sering kali membuat kita silau oleh kemajuan artifisial, sementara nilai-nilai luhur yang berkelanjutan justru terpinggirkan. Kampung adat mengajarkan bahwa harmoni antara manusia, tanah, dan Sang Pencipta adalah kunci utama kelangsungan hidup. Ketika alam dijaga, ia akan memberikan hasil yang melimpah untuk menopang kehidupan manusia.

Mempertahankan ajaran leluhur bukanlah bentuk sikap anti-kemajuan, melainkan bentuk kebijaksanaan tertinggi untuk menyaring modernitas agar tidak kehilangan jati diri. Menjaga tradisi menanam, merawat lumbung, dan memuliakan padi adalah wujud nyata nasionalisme kultural yang patut diteladani oleh seluruh elemen bangsa.
​#BumiDega #leuit #lumbung #kampungadat #ciptagelar #gelaralam #swasembadapangan #kearifanlokal #budayasunda #ketahananpangan#kampungtapitidakKampungan# Bob Hariawan. KABIRO KOTA BANDUNG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Semarak Milangkala ke-16 Paguyuban Asep Dunia di Tasikmalaya, Perkuat Silaturahmi dan Lestarikan Budaya Sunda
Pekan Gawai Dayak Sintang ke-XIII 2026 Resmi Dibuka, Lestarikan Warisan Leluhur Sekaligus Dorong Ekonomi Daerah
Merawat Budaya dan Menjaga Air: Uji Publik Film Dokumenter “Nafas Leluhur” Ajak Publik Renungkan Nilai Tradisi
Peringati 10 Tahun Kerja Sama, DIY dan Victoria Hadirkan Kolaborasi Wayang Kulit dan Melbourne Symphony
PHRI dan Disparekraf Gelar Konsolidasi Perkuat Sinergi Pariwisata Daerah
Selamatan Keberangkatan BAIT Sugiarti Melanjutkan Pendidikan ke SMK Negeri 1 Sintang
Ekskavasi Situs Gedong Pusaka di Bantul Ungkap Fondasi dan Struktur Bangunan Masa Lalu
Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman Digelar di Pantai Glagah, Perkuat Nilai Luhur dan Keselarasan dengan Alam
Berita ini 49 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 13:15 WIB

Semarak Milangkala ke-16 Paguyuban Asep Dunia di Tasikmalaya, Perkuat Silaturahmi dan Lestarikan Budaya Sunda

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:56 WIB

Pekan Gawai Dayak Sintang ke-XIII 2026 Resmi Dibuka, Lestarikan Warisan Leluhur Sekaligus Dorong Ekonomi Daerah

Selasa, 28 Juli 2026 - 23:42 WIB

Merawat Budaya dan Menjaga Air: Uji Publik Film Dokumenter “Nafas Leluhur” Ajak Publik Renungkan Nilai Tradisi

Selasa, 28 Juli 2026 - 02:17 WIB

Menjaga Leuit, Merawat Masa Depan: Pelajaran Swasembada Pangan dari Kampung Adat

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:59 WIB

Peringati 10 Tahun Kerja Sama, DIY dan Victoria Hadirkan Kolaborasi Wayang Kulit dan Melbourne Symphony

Berita Terbaru

POLRI

STOP NARKOBA — LINDUNGI DIRI, SELAMATKAN MASA DEPAN

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:20 WIB