Mengapa Kita Percaya Kebohongan: Sebuah Pelajaran Psikologis Abadi dari Tahun

- Penulis

Selasa, 21 Juli 2026 - 02:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas1.id
BANDUNG, 21 Juli 2026 — Di tengah derasnya arus informasi yang saling bersahutan saat ini, kita kerap dihadapkan pada satu tantangan mendasar: bagaimana memilah fakta dan rekayasa, serta mengapa ucapan yang tidak benar namun diulang terus-menerus terasa begitu meyakinkan? Jawabannya terletak pada satu pola pikir manusia yang telah terbukti secara ilmiah, yang dikenal sebagai Efek Kebohongan Ilusori (Illusory Truth Effect).

Sebuah ilustrasi karya Adi Putra dari Booksmartid mengingatkan kita pada akar penemuan ini. Gambar tersebut menampilkan suasana eksperimen klasik yang dilakukan di Universitas Villanova pada tahun 1977 oleh tim peneliti bernama Hasher, Goldstein, dan Toppino. Di dalamnya tampak para peneliti sedang mengamati sekelompok mahasiswa yang menilai berbagai pernyataan—beberapa ditandai benar, sebagian lain salah—dengan angka tahun “1977” yang menonjol sebagai tanda sejarah penting penelitian ini.

Eksperimen Villanova: Membuka Tabir Cara Kita Percaya Sesuatu

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada tahun tersebut, Hasher, Goldstein, dan Toppino merancang penelitian sederhana namun mendalam. Mereka menyajikan beragam pernyataan—baik yang benar maupun yang salah—kepada para peserta dalam tiga tahap terpisah selama beberapa minggu.

Inti penelitian ini terletak pada pengulangan. Beberapa pernyataan dimunculkan kembali secara konsisten di setiap sesi, sementara yang lain hanya muncul sekali. Hasilnya sungguh menarik: para peserta cenderung menilai sebuah pernyataan sebagai “benar” hanya karena mereka pernah mendengar atau membacanya sebelumnya—tanpa mempedulikan apakah isi pernyataan itu benar atau salah secara objektif.

Temuan ini kemudian menjadi dasar bagi pemahaman kita mengenai Efek Kebohongan Ilusori, yang berjalan atas dua mekanisme utama cara kerja otak manusia:

Baca Juga:  Diduga Mafia Batu Hitam Nasional Beroperasi di Sulut, Tiga Truk Disergap Polisi: Kejahatan SDA Terorganisir Terancam KUHP Baru, UU Minerba, dan Denda Puluhan Miliar

– Kemudahan Pemrosesan: Sesuatu yang sering kita dengar atau lihat akan lebih mudah dipahami dan diingat. Otak secara otomatis mengartikan kemudahan tersebut sebagai tanda bahwa informasi itu benar.
– Hilangnya Kewaspadaan Kritis: Saat kita bertemu kembali dengan informasi yang sama, kita cenderung tidak lagi memeriksa asal-usul, bukti pendukung, atau kebenarannya. Kita hanya mengenali keakraban informasi itu dan menerimanya begitu saja.

Masih Sangat Relevan di Era Digital

Meskipun penelitian ini dilakukan hampir setengah abad lalu, pesannya justru semakin relevan dan mendesak di tahun 2026. Di masa media sosial dan penyebaran informasi secepat kilat, kita semua sangat rentan dipengaruhi oleh pengulangan. Berita sensasional, teori yang tidak berdasar, hingga mitos kesehatan yang disebarkan berulang kali dapat terbentuk menjadi sebuah “kebenaran bersama” yang sesungguhnya palsu.

Ilustrasi tersebut bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan peringatan nyata bagi kita semua: agar lebih teliti dan bijak dalam menerima setiap informasi yang datang.

Melawan Ilusi dengan Berpikir Kritis

Kita memang tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kecenderungan alami otak ini, karena itu bagian dari cara manusia bekerja. Namun, kita bisa melawannya dengan kesadaran dan langkah-langkah sederhana:

– Pertanyakan Keakraban: Jika ada informasi yang terasa sangat akrab dan meyakinkan, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya percaya ini karena memang benar, atau hanya karena saya sudah sering mendengarnya?”
– Verifikasi Asal-Usul: Jangan pernah menerima informasi hanya karena sering diulang. Selalu per

Bob Hariawan
Kabiro kota bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

REPRESI KRIMINAL: Aksi Begal Motor Sasar Pelajar Terjadi di Gang Sukatenang, Pamoyanan
Munas III PJS Tuntas, Mahmud Marhaba Terpilih Aklamasi Pimpin PJS Periode 2026–2027
Kasta Wiguna Buka Muscam KNPI, Dorong Pemuda Jadi Motor Penggerak Perubahan
Polsek Baleendah Gelar Razia Knalpot Bising, Kendaraan Langsung Dipasang Knalpot Standar
POLIKLINIK LAPAS GARUT RAIH AKREDITASI “PARIPURNA” KEMENTERIAN KESEHATAN RI
Mengoptimalkan Energi dan Fokus dengan Ketofastosis
Pengukuhan AMKI Ogan Ilir Berlangsung Sederhana dan Penuh Hidmad.
Kontroversi Video IF, Gmaks Minta KPK Pantau Seleksi BUMD
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 13:05 WIB

REPRESI KRIMINAL: Aksi Begal Motor Sasar Pelajar Terjadi di Gang Sukatenang, Pamoyanan

Selasa, 21 Juli 2026 - 12:33 WIB

Munas III PJS Tuntas, Mahmud Marhaba Terpilih Aklamasi Pimpin PJS Periode 2026–2027

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:02 WIB

Kasta Wiguna Buka Muscam KNPI, Dorong Pemuda Jadi Motor Penggerak Perubahan

Selasa, 21 Juli 2026 - 02:27 WIB

Mengapa Kita Percaya Kebohongan: Sebuah Pelajaran Psikologis Abadi dari Tahun

Selasa, 21 Juli 2026 - 01:36 WIB

Polsek Baleendah Gelar Razia Knalpot Bising, Kendaraan Langsung Dipasang Knalpot Standar

Berita Terbaru