Kompas1.id
BANDUNG, 21 Juli 2026 — Di tengah derasnya arus informasi yang saling bersahutan saat ini, kita kerap dihadapkan pada satu tantangan mendasar: bagaimana memilah fakta dan rekayasa, serta mengapa ucapan yang tidak benar namun diulang terus-menerus terasa begitu meyakinkan? Jawabannya terletak pada satu pola pikir manusia yang telah terbukti secara ilmiah, yang dikenal sebagai Efek Kebohongan Ilusori (Illusory Truth Effect).
Sebuah ilustrasi karya Adi Putra dari Booksmartid mengingatkan kita pada akar penemuan ini. Gambar tersebut menampilkan suasana eksperimen klasik yang dilakukan di Universitas Villanova pada tahun 1977 oleh tim peneliti bernama Hasher, Goldstein, dan Toppino. Di dalamnya tampak para peneliti sedang mengamati sekelompok mahasiswa yang menilai berbagai pernyataan—beberapa ditandai benar, sebagian lain salah—dengan angka tahun “1977” yang menonjol sebagai tanda sejarah penting penelitian ini.
Eksperimen Villanova: Membuka Tabir Cara Kita Percaya Sesuatu
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada tahun tersebut, Hasher, Goldstein, dan Toppino merancang penelitian sederhana namun mendalam. Mereka menyajikan beragam pernyataan—baik yang benar maupun yang salah—kepada para peserta dalam tiga tahap terpisah selama beberapa minggu.
Inti penelitian ini terletak pada pengulangan. Beberapa pernyataan dimunculkan kembali secara konsisten di setiap sesi, sementara yang lain hanya muncul sekali. Hasilnya sungguh menarik: para peserta cenderung menilai sebuah pernyataan sebagai “benar” hanya karena mereka pernah mendengar atau membacanya sebelumnya—tanpa mempedulikan apakah isi pernyataan itu benar atau salah secara objektif.
Temuan ini kemudian menjadi dasar bagi pemahaman kita mengenai Efek Kebohongan Ilusori, yang berjalan atas dua mekanisme utama cara kerja otak manusia:
– Kemudahan Pemrosesan: Sesuatu yang sering kita dengar atau lihat akan lebih mudah dipahami dan diingat. Otak secara otomatis mengartikan kemudahan tersebut sebagai tanda bahwa informasi itu benar.
– Hilangnya Kewaspadaan Kritis: Saat kita bertemu kembali dengan informasi yang sama, kita cenderung tidak lagi memeriksa asal-usul, bukti pendukung, atau kebenarannya. Kita hanya mengenali keakraban informasi itu dan menerimanya begitu saja.
Masih Sangat Relevan di Era Digital
Meskipun penelitian ini dilakukan hampir setengah abad lalu, pesannya justru semakin relevan dan mendesak di tahun 2026. Di masa media sosial dan penyebaran informasi secepat kilat, kita semua sangat rentan dipengaruhi oleh pengulangan. Berita sensasional, teori yang tidak berdasar, hingga mitos kesehatan yang disebarkan berulang kali dapat terbentuk menjadi sebuah “kebenaran bersama” yang sesungguhnya palsu.
Ilustrasi tersebut bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan peringatan nyata bagi kita semua: agar lebih teliti dan bijak dalam menerima setiap informasi yang datang.
Melawan Ilusi dengan Berpikir Kritis
Kita memang tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kecenderungan alami otak ini, karena itu bagian dari cara manusia bekerja. Namun, kita bisa melawannya dengan kesadaran dan langkah-langkah sederhana:
– Pertanyakan Keakraban: Jika ada informasi yang terasa sangat akrab dan meyakinkan, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya percaya ini karena memang benar, atau hanya karena saya sudah sering mendengarnya?”
– Verifikasi Asal-Usul: Jangan pernah menerima informasi hanya karena sering diulang. Selalu per
Bob Hariawan
Kabiro kota bandung














