Kompas1.id
GARUT, 1 Juli 2026 – Di balik hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, masih ada kisah pilu yang sering luput dari perhatian banyak orang. Seorang pria bernama Iman (35), warga Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, harus menjalani hidup dalam penderitaan mendalam setelah mengalami kecelakaan sekitar satu tahun lalu yang mengubah seluruh nasibnya.
Akibat kecelakaan itu, Iman mengalami patah tulang ekor yang membuat kedua kakinya lumpuh total. Ia hanya mampu terbaring lemah di sebuah kontrakan kecil, yang menjadi saksi bisu perjuangannya melawan rasa sakit setiap hari. Kondisinya semakin memburuk karena luka menganga di bagian pinggul belakang tak kunjung sembuh dan membutuhkan perawatan secara terus-menerus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, Iman hidup sebatang kara tanpa memiliki penghasilan tetap. Segala kebutuhan hidup dan biaya perawatannya hanya bergantung pada bantuan saudara-saudaranya yang juga hidup dalam kondisi ekonomi pas-pasan. Bahkan, biaya sewa kontrakan tempat tinggalnya telah menunggak hampir tiga bulan karena keluarga tidak lagi sanggup membayarnya.
Kondisi yang menyayat hati semakin terasa ketika keluarga terpaksa mencuci dan menggunakan kembali perban bekas untuk membalut lukanya, lantaran tidak memiliki uang untuk membeli perban baru.
“Kami tujuh bersaudara, semuanya hidup pas-pasan. Untuk membeli perban saja sudah sangat berat. Perban bekas kami cuci lalu dipakai lagi. Yang penting luka adik kami tetap tertutup walaupun seadanya,” ungkap IR (40), kakak kandung Iman, dengan suara bergetar menahan haru.
Namun, perjuangan keluarga tidak pernah berhenti. Setiap hari, Firman (45), kakak Iman yang bekerja sebagai tukang ojek pangkalan, menyempatkan waktu di sela mencari nafkah untuk merawat adiknya. Dengan penuh kesabaran, ia menyuapi makan, memandikan, membersihkan tubuh, hingga mengganti balutan luka yang tak kunjung sembuh.
Meski hanya menggunakan perban yang sudah lusuh karena berkali-kali dicuci, Firman tidak pernah mengeluh. Baginya, merawat adik adalah tanggung jawab yang harus dijalani dengan ikhlas.
“Saya hanya ingin adik saya bisa sembuh dan mendapatkan pengobatan yang layak. Kami sudah berusaha semampu kami, sekarang hanya bisa berharap ada tangan-tangan baik yang mau membantu,” ujarnya.
Kisah Iman menjadi gambaran nyata bahwa masih ada warga yang harus berjuang melawan penderitaan di tengah keterbatasan ekonomi. Keluarga berharap ada perhatian dari pemerintah, lembaga sosial, komunitas kemanusiaan, maupun para dermawan agar Iman dapat memperoleh perawatan medis yang layak dan kesempatan hidup yang lebih baik.
Di balik pintu kontrakan sederhana itu, Iman masih terus bertahan. Ia tidak meminta kemewahan, hanya berharap bisa terbebas dari rasa sakit yang telah menemaninya selama hampir satu tahun terakhir. Semoga kisah ini dapat menggugah kepedulian banyak pihak untuk meringankan beban yang ditanggung Iman dan keluarganya.
Sumber: kompas1.id
Penulis: Ridick














