Suhaid — KOMPAS1.id || Jeritan masyarakat Kecamatan Suhaid kian memuncak. Di tengah sulitnya warga mendapatkan sumber air bersih akibat kondisi sungai yang diduga tercemar aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), kini masyarakat kembali dihadapkan pada ancaman pemutusan aliran air bersih dari PDAM akibat tunggakan pembayaran yang disebut belum diselesaikan selama berbulan-bulan.
Kondisi ini memicu keresahan mendalam di tengah warga. Mereka merasa hanya menjadi korban dari persoalan yang tidak pernah mereka ciptakan.
Sungai yang dahulu menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari—mulai dari mandi, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga—kini disebut sudah tidak lagi layak digunakan karena air berubah keruh dan diduga tercemar aktivitas tambang emas ilegal yang hingga kini masih terus berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam situasi tersebut, pasokan air bersih dari PDAM menjadi satu-satunya harapan masyarakat. Namun harapan itu kini berada di ujung ancaman.
Warga menyebut tunggakan pembayaran telah berlangsung kurang lebih empat bulan, sementara hingga saat ini belum terlihat adanya penyelesaian yang jelas dari pihak pengelola maupun pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Nama Henry beserta rekan-rekannya pun mulai menjadi sorotan masyarakat terkait pengelolaan distribusi air bersih di wilayah tersebut.
Warga mempertanyakan bentuk tanggung jawab pengelola ketika masyarakat terus dipaksa hidup dalam ketidakpastian atas kebutuhan dasar yang seharusnya dijamin.
Bagi masyarakat, persoalan ini bukan lagi sekadar tunggakan administrasi, melainkan sudah menyangkut hajat hidup orang banyak.
Jika aliran air bersih benar-benar diputus, dampaknya dinilai bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi memicu persoalan kesehatan, kebersihan lingkungan, hingga keresahan sosial di tengah masyarakat.
Warga mengaku telah mendatangi kantor polisi setempat untuk meminta agar pihak-pihak terkait segera dipanggil dan dimintai penjelasan.
Namun hingga kini, masyarakat merasa belum ada langkah tegas maupun kepastian yang mampu meredam keresahan yang terus berkembang.
“Sungai sudah tercemar, sekarang air bersih mau diputus juga. Mau masyarakat mandi dan ambil air di mana lagi? Jangan sampai rakyat kecil terus dijadikan korban,” ungkap salah seorang warga dengan nada penuh kekecewaan.
Kini kemarahan masyarakat mulai meluas.
Warga berharap pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga pihak pengelola air bersih segera turun tangan sebelum persoalan ini memicu gejolak yang lebih besar.
Masyarakat menegaskan, air bersih bukan barang mewah, melainkan hak dasar yang wajib dijaga dan diprioritaskan demi keberlangsungan hidup masyarakat kecil.
Reporter: Didy














