Air Mata Puncak Jaya: Ketika Masa Depan Papua Gugur Sebelum Berkembang

- Penulis

Rabu, 20 Mei 2026 - 23:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas1.id
Dunia jurnalisme kerap dipaksa merekam hal-hal yang paling tidak ingin dilihat, namun justru paling perlu direnungkan. Pekan ini, sebuah potret pilu kembali mengetuk pintu kesadaran kita semua. Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun bernama Nona Aliko Walia mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.kamis 21 Mei 2026

Ia bukan sekadar nama di baris berita duka. Ia adalah lambang kepolosan yang terenggut, masa depan yang layu bahkan sebelum sempat merekah. Kepergiannya dipicu luka tembak akibat eskalasi konflik bersenjata di Distrik Kemburu yang berlangsung sejak awal April lalu. Di usia yang baru sewindu, jemari kecilnya seharusnya menggenggam pensil atau mainan, bukan menahan perihnya proyektil logam yang menembus dadanya.

Tragedi Kemanusiaan di Balik Angka dan Strategi

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konflik yang berkepanjangan, peta strategi dan narasi politik kerap mengaburkan realitas paling mendasar di lapangan: manusia. Bagi keluarga yang ditinggalkan, Nona Aliko bukanlah sekadar statistik korban atau “efek samping” operasi keamanan. Ia adalah tawa yang menghiasi rumah, harapan orang tuanya, serta bagian dari generasi masa depan tanah Papua.

“Kehilangan seorang anak di wilayah konflik adalah kegagalan kolektif kemanusiaan. Tidak ada pembenaran moral apa pun, di bawah panji mana pun, yang mampu menghidupkan kembali nyawa anak-anak yang gugur di tengah desing peluru.”

Baca Juga:  Polda Lampung Cek Senpi Anggota Hingga Amunisi di Polres Way Kanan

Setiap peluru yang salah sasaran tidak hanya melukai fisik korban, tetapi juga menembus jantung rasa aman seluruh masyarakat sipil. Konflik yang berlarut-larut terus meninggalkan trauma mendalam bagi anak-anak Papua, yang tumbuh di bawah bayang-bayang ketakutan, alih-alih di bawah naungan kedamaian.

Mendesak Perlindungan Mutlak atas Warga Sipil

Hukum humaniter internasional dan nurani dasar manusia telah menggariskan tegas: warga sipil, terutama anak-anak, wajib mendapatkan perlindungan tertinggi dalam situasi konflik bersenjata. Peristiwa memilukan ini harus menjadi alarm keras bagi negara dan seluruh pihak yang terlibat. Evaluasi menyeluruh serta pendekatan yang mengutamakan keselamatan manusia di atas segalanya mutlak diperlukan. Penanganan wilayah konflik tidak boleh lagi menyisakan ruang bagi hilangnya nyawa tak berdosa.

Menenun Kembali Kedamaian yang Rerak

Kita tidak boleh membiarkan diri menjadi mati rasa terhadap berita-berita duka dari ufuk timur Indonesia. Papua tidak hanya butuh pembangunan fisik, tetapi juga kesembuhan atas luka-luka kemanusiaannya yang mendalam.

Mari kita tundukkan kepala sejenak untuk Nona Aliko Walia. Selamat jalan, jiwa yang suci. Semoga kepergianmu yang sunyi di Puncak Jaya menjadi pengingat terakhir bagi kita yang masih bernapas, bahwa kedamaian di tanah Papua bukanlah pilihan, melainkan pertanggungjawaban sejarah yang harus segera diwujudkan.

Kabiro Kota Bandung
BOB HARIAWAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pokja BASN Jadi Garda Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Kabupaten Bandung Catat Realisasi Pendapatan 49,12 Persen, Melampaui Rata-Rata Jawa Barat
Lokasi Koperasi Desa Merah Putih Gunung Masigit Dikritik, Camat Jelaskan Alasan
*Negara Kaya Sumber Daya Alam, Rakyat Justru Dibebani Pajak Semakin Berat — Ketua DPW IWOI JATENG Angkat Bicara*
‎365 Petani Aceh Singkil Ikuti Pelatihan SDMPKS 2026, Investasi SDM untuk Sawit yang Lebih Maju dan Berdaya Saing
Si Pencinta Petualangan: Kisah di Balik Motor Trail
Kecerdasan Buatan: Masa Depan Teknologi dan Inovasi Manusia
Sudah Saatnya Android Menaklukkan iPhone? Ini Fakta yang Perlu Dibahas
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 05:40 WIB

Kabupaten Bandung Catat Realisasi Pendapatan 49,12 Persen, Melampaui Rata-Rata Jawa Barat

Selasa, 7 Juli 2026 - 03:21 WIB

Lokasi Koperasi Desa Merah Putih Gunung Masigit Dikritik, Camat Jelaskan Alasan

Selasa, 7 Juli 2026 - 02:59 WIB

*Negara Kaya Sumber Daya Alam, Rakyat Justru Dibebani Pajak Semakin Berat — Ketua DPW IWOI JATENG Angkat Bicara*

Selasa, 7 Juli 2026 - 02:23 WIB

‎365 Petani Aceh Singkil Ikuti Pelatihan SDMPKS 2026, Investasi SDM untuk Sawit yang Lebih Maju dan Berdaya Saing

Selasa, 7 Juli 2026 - 01:27 WIB

Si Pencinta Petualangan: Kisah di Balik Motor Trail

Berita Terbaru

Uncategorized

Permohonan Doa dari Korwil Bekasi dan Keluarga Besar Kompas1ID

Selasa, 7 Jul 2026 - 08:17 WIB