Kompas1.id
Dunia jurnalisme kerap dipaksa merekam hal-hal yang paling tidak ingin dilihat, namun justru paling perlu direnungkan. Pekan ini, sebuah potret pilu kembali mengetuk pintu kesadaran kita semua. Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun bernama Nona Aliko Walia mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.kamis 21 Mei 2026
Ia bukan sekadar nama di baris berita duka. Ia adalah lambang kepolosan yang terenggut, masa depan yang layu bahkan sebelum sempat merekah. Kepergiannya dipicu luka tembak akibat eskalasi konflik bersenjata di Distrik Kemburu yang berlangsung sejak awal April lalu. Di usia yang baru sewindu, jemari kecilnya seharusnya menggenggam pensil atau mainan, bukan menahan perihnya proyektil logam yang menembus dadanya.
Tragedi Kemanusiaan di Balik Angka dan Strategi
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam konflik yang berkepanjangan, peta strategi dan narasi politik kerap mengaburkan realitas paling mendasar di lapangan: manusia. Bagi keluarga yang ditinggalkan, Nona Aliko bukanlah sekadar statistik korban atau “efek samping” operasi keamanan. Ia adalah tawa yang menghiasi rumah, harapan orang tuanya, serta bagian dari generasi masa depan tanah Papua.
“Kehilangan seorang anak di wilayah konflik adalah kegagalan kolektif kemanusiaan. Tidak ada pembenaran moral apa pun, di bawah panji mana pun, yang mampu menghidupkan kembali nyawa anak-anak yang gugur di tengah desing peluru.”
Setiap peluru yang salah sasaran tidak hanya melukai fisik korban, tetapi juga menembus jantung rasa aman seluruh masyarakat sipil. Konflik yang berlarut-larut terus meninggalkan trauma mendalam bagi anak-anak Papua, yang tumbuh di bawah bayang-bayang ketakutan, alih-alih di bawah naungan kedamaian.
Mendesak Perlindungan Mutlak atas Warga Sipil
Hukum humaniter internasional dan nurani dasar manusia telah menggariskan tegas: warga sipil, terutama anak-anak, wajib mendapatkan perlindungan tertinggi dalam situasi konflik bersenjata. Peristiwa memilukan ini harus menjadi alarm keras bagi negara dan seluruh pihak yang terlibat. Evaluasi menyeluruh serta pendekatan yang mengutamakan keselamatan manusia di atas segalanya mutlak diperlukan. Penanganan wilayah konflik tidak boleh lagi menyisakan ruang bagi hilangnya nyawa tak berdosa.
Menenun Kembali Kedamaian yang Rerak
Kita tidak boleh membiarkan diri menjadi mati rasa terhadap berita-berita duka dari ufuk timur Indonesia. Papua tidak hanya butuh pembangunan fisik, tetapi juga kesembuhan atas luka-luka kemanusiaannya yang mendalam.
Mari kita tundukkan kepala sejenak untuk Nona Aliko Walia. Selamat jalan, jiwa yang suci. Semoga kepergianmu yang sunyi di Puncak Jaya menjadi pengingat terakhir bagi kita yang masih bernapas, bahwa kedamaian di tanah Papua bukanlah pilihan, melainkan pertanggungjawaban sejarah yang harus segera diwujudkan.
Kabiro Kota Bandung
BOB HARIAWAN














