SALATIGA,- KOMPAS1.id || 23 April 2026 – Hidup kerap menyerupai selembar kain putih: kadang dihiasi warna cerah, tak jarang pula digurat gelap yang pekat.
Bagi Titi Permata, perempuan kelahiran 1 Juli 1976 yang kini menetap di Salatiga, kehidupan adalah proses panjang menenun takdir—dengan benang kesabaran dan kemandirian.
Bertahan di Tengah Ujian Ganda
Beberapa waktu lalu, Titi menghadapi ujian berat yang mengguncang fondasi hidupnya.
Diagnosis tumor yang datang tiba-tiba, disusul perpisahan dalam kehidupan pribadi, sempat membawanya ke titik terendah. Namun, ia tidak larut dalam keterpurukan. Titi memilih berdiri, memeluk kerapuhan, lalu mengubahnya menjadi kekuatan.
Baginya, perpisahan bukan akhir, melainkan awal untuk menegaskan bahwa kemandirian adalah harga diri yang diperjuangkan.
Kemandirian sebagai Jalan Hidup
Di tengah keterbatasan, Titi mengambil langkah berani: membiayai perjuangannya secara mandiri. Ia tidak menunggu, tidak bergantung—melainkan bergerak.
Berbekal kemampuan yang dipelajari secara otodidak, dari seni hingga berbagai kecakapan hidup, ia membuktikan bahwa batas hanya ada dalam pikiran.
“Belajar secara otodidak bukan sekadar menguasai keterampilan, tetapi menemukan potensi diri yang selama ini tersembunyi,” menjadi prinsip yang ia jalani.
Keluarga, Sumber Kekuatan
Di balik keteguhannya, Titi tetap menjalankan perannya sebagai ibu dan istri.
Kasih sayangnya untuk suami dan dua putranya menjadi sumber energi yang tak tergantikan. Keluarga adalah jangkar yang menjaga dirinya tetap kokoh di tengah badai.
Lebih dari Sekadar Bertahan
Kisah Titi Permata menegaskan satu hal: penyakit mungkin melemahkan raga, dan perpisahan bisa melukai hati, tetapi keduanya tidak akan mampu meruntuhkan semangat seseorang yang memiliki tujuan hidup.
Dari Salatiga, Titi mengajarkan bahwa setiap luka menyimpan cahaya, setiap hari adalah kesempatan untuk bangkit, dan setiap perjuangan layak menjadi karya yang bermakna.
BOB HARIAWAN: Kabiro Kota Bandung
















