Air Hujan Melimpah di Bulan Penuh Berkah, bersama “Pesantren Gerakan”

- Penulis

Senin, 2 Maret 2026 - 08:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bantul.DIY.Kompas1.id
Romadhon adalah momentum refleksi yang tidak hanya menguatkan dimensi spiritual, tetapi juga menajamkan kesadaran ekologis dan tanggung jawab sosial. 0uasa mengajarkan pengendalian diri, kesederhanaan, dan Empati terhadap mereka yang mengalami keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar-termasuk air. Di tengah krisis iklim dan ancaman kelangkaan air bersih yang semakin nyata di beberapa wilayah di Indonesia. Refleksi keagamaan perlu di terjemahkan menjadi komitmen praksis untuk menjaga Keberlanjutan lingkungan hidup.

Indonesia, khusus nya Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta menghadapi persoalan serius terkait krisis air tanah, penurunan muka air, serta meningkatnya kebutuhan air akibat penduduk dan pembangunan. Praktek Eksploitasi Air Tanah yang berlebihan tanpa di imbangi upaya Konservasi berkelanjutan hingga mengembalikan air hujan secara sadar dan sengaja kembali ke dalam tanah berisiko memperparah kerentanan ekologis dan sosial. Dalam konteks ini, pemanfaatan memanen air hujan (Rainwater Harvesting) menjadi salah satu solusi strategi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga partisipatif dan berbasis komunitas. Serta bisa di lakukan secara sederhana untuk masing-masing pererongan di dalam lingkup keluarga.

Merespon tantangan tersebut, GUSDURian Jogya, PMII Sleman, PMII UGM, IPPNU DIY berinisiatif menyelenggarakan “Pesantren Gerakan” sebagai ruang belajar yang memadukan nilai-nilai keislaman, pemikiran kritis, dan kepemimpinan transformatif ala Gus Dur. Dalam semangat islam sebagai Rahmat an Lil ‘Alamin, isu ekologi tidak dapat di pisahkan dari tanggung jawab moral umat beragama untuk menjaga bumi,”Bumi cuma Satu, Manusia adalah Tamu”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pesantren Gerakan” ini di adakan Hari Ahad, 01 Maret 2026 di “Griya GUSDURian”, Jalan Sorowajan, RT. 08/RW.RT 10,Jaranan, Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55198. Yang di ikuti anak muda, aktivis, dan mahasiswa dari berbagai organisasi dan komunitas di Yogyakarta dan Luar Yogyakarta. Terdiri dari 20 Santri Putra dan 20 Santri Putri. Dan Menghadirkan langsung Sri Wahyuningsih (Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening) sebagai Pemateri sekaligus Praktisi yang berlokasi di Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Harapan kegiatan ini adalah ;
1. Meningkatkan pemahaman peserta tentang krisis air dan tantangan ekologis, khususnya dampak Eksploitasi Air Tanah dan perubahan iklim terhadap Keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial,
2. Memperkenalkan konsep 5 M(Menampung, mengolah, minum, menabung, mandiri) dan praktek baik sebagai solusi adaptif berkelanjutan baik dari aspek teknis, kebijakan, maupun partisipasi komunitas,
3. Mendorong lahirnya kepemimpinan ekologis di kalangan aktivis dan mahasiswa, yang mampu menerjemahkan nilai-nilai keislaman yang Amanah untuk menjadi “Khalifatullah fil ardh” yang telah di sampaikan di dalam Al Qur’an, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat, “Aku hendak menjadikan Kholifah di Bumi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqoroh : 30).

Baca Juga:  Outing Class MI Ma'arif Bego Edukasi Air Hujan

Sri Wahyuningsih yang akrab di sapa (Bu Ning) kegiatan GUSDURian ini adalah kelanjutan yang sudah mewujudkan impian nyata ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) yang mempunyai 3 Tandon, 1 Tandon kapasitas 2000 liter, total berkapasitas 6000 liter dan Alat Elektrolisa sebagai pemecahan partikel air menjadi 2 rasa “Asam dan Basa” yang semua di manfaat kan nya tanpa ada yang di buang. Di Moment Romadhon inilah sabagai Refleksi Kesadaran sebagai Edukasi untuk belajar bahwa Air Hujan Rahmat dan penuh Keberkahan.

Bu Ning juga memberi gambaran secara sederhana bagi siapa pun bisa melakukan nya tanpa alasan, yang terpenting ada Niat dan Kemauan. Terutama yang perlu di perhatikan SOP (Standar Operasional Prosedur) jika hujan deras stelah musim kemarau 1-3 kali abaikan, biarkan hujan turun untuk Tanah dan makhluk hidup lainnya di Bumi. Setelah itu hujan berikut nya siapkan wadah Ember, bak-bak kosong, Galon untuk sebagai media menampung nya, tetap biarkan air hujan 10-25 menit lewatkan dulu agar Polutan di atas terbuang dulu, stelah itu di tampung, di saring(Filter) dengan Kain bersih warna Putih berlapis-lapis, stelah itu tutup rapat dan simpan di tempat yang teduh, jauhkan dari sinar matahari langsung atau pantulan agar tidak memicu timbulnya spora lumut, dan air hujan bisa di konsumsi tidak ada Kadaluarsa nya.

Bu Ning menyampaikan sebuah Ayat Al Qur’an yang berbunyi ; “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu” (QS. An Nahl : 10).

Semoga melalui “Pesantren Gerakan” kedepan mampu menjadi kan generasi yang penuh solusi dan terus berinovasi dalam menjaga Bumi ini. Siapa lagi kalau bukan Kita sebagai Generasi penerus peradaban yang di dasari dengan keimanan dan ketakwaan kita kepada Tuhan YME agar tidak keluar dari Syariat Nya.
Sumber: AJ. Purwanto

@AndiSuka_2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sanggar Banyu Bening Konsisten Lestarikan Warisan Budaya
MAHASISWA KKN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA DORONG PEMANFAATAN AIR HUJAN DI PADUKUHAN SANGUREJO
Outing Class MI Ma’arif Bego Edukasi Air Hujan
Sanggar Banyu Bening terus tingkatkan diri dalam Uji Kompetensi dalam upaya Apresiasi Budaya dan Pembentukan Karakter generasi penerus bangsa.
Dialog Edukasi Air Hujan Dorong Praktik Desa dan Arah Kebijakan di Halmahera Timur
Edukasi Sistem Pemanenan dan Pemanfaatan Air Hujan Diperkenalkan kepada Siswa SMAN 2 Sleman
Praktik Baik Sekolah Air Hujan Banyu Bening perluas Konsep 5 M (Menampung, Mengolah, Meminum, Menabung, dan Mandiri) Dengan Teknologi ISLAH
Sekolah Air Hujan Banyu Bening perkuat Metode ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) untuk kemandirian Air
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 Maret 2026 - 08:51 WIB

Air Hujan Melimpah di Bulan Penuh Berkah, bersama “Pesantren Gerakan”

Kamis, 26 Februari 2026 - 14:01 WIB

Sanggar Banyu Bening Konsisten Lestarikan Warisan Budaya

Sabtu, 21 Februari 2026 - 07:40 WIB

MAHASISWA KKN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA DORONG PEMANFAATAN AIR HUJAN DI PADUKUHAN SANGUREJO

Jumat, 6 Februari 2026 - 06:01 WIB

Outing Class MI Ma’arif Bego Edukasi Air Hujan

Senin, 19 Januari 2026 - 23:48 WIB

Sanggar Banyu Bening terus tingkatkan diri dalam Uji Kompetensi dalam upaya Apresiasi Budaya dan Pembentukan Karakter generasi penerus bangsa.

Berita Terbaru