KOMPAS1.id || Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang mengkhawatirkan. Gunung berapi tersebut tercatat meletus sebanyak empat kali hanya dalam kurun waktu satu jam saja, memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pesisir.
Rangkaian erupsi pertama tercatat terjadi pukul 04.11 WIB dengan amplitudo maksimum 33 milimeter. Tak berselang lama, letusan kedua menyusul pada pukul 04.19 WIB dengan amplitudo yang lebih besar, yakni mencapai 60 milimeter, menandakan tekanan di dalam gunung semakin meningkat.
Kemudian, letusan ketiga terjadi pada pukul 04.28 WIB dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Aktivitas vulkanik ini memuncak pada pukul 05.46 WIB, di mana letusan keempat teramati secara visual menjadi yang terbesar dari rangkaian kejadian tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari puncak letusan, kolom abu vulkanik terlihat menjulang setinggi 300 meter di atas puncak gunung, atau setara dengan 457 meter di atas permukaan laut. Abu yang berwarna hitam pekat itu terlihat bergerak perlahan ke arah barat dan barat laut, terbawa arus angin yang sedang berhembus di wilayah tersebut.
Badan Geologi dan pihak berwenang mengingatkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada tingkat yang tinggi. Meskipun belum ada laporan dampak kerusakan yang serius, potensi letusan susulan tetap terbuka lebar kapan saja.
Pemerintah melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir Selat Sunda untuk tetap waspada. Warga diminta untuk tidak melakukan aktivitas di dalam radius 5 kilometer dari kawah gunung dan selalu memantau informasi resmi dari pihak berwenang.
Keselamatan menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian aktivitas gunung berapi ini. Masyarakat diharapkan tetap tenang namun tidak lengah, serta senantiasa mengikuti arahan dan peringatan resmi agar terhindar dari bahaya yang mungkin timbul akibat letusan lanjutan maupun dampak abu vulkanik.(red)









