Kompas. 1. Id.
Masyarakat KP Ganenyeum , RW 07 , dan RW 08 , Kadus 4 , Desa Malasari , Kecamatan Cimaung menggelar Hajat Huluwotan Cipait, Selas ( 18/8/26 ). kegiatan ini merupakan salah satu tradisi adat masyarakat Sunda yang berkembang secara turun temurun, kegiatan ini merupakan tradisi ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT, atas limpahan nikmat air yang menjadi sumber kehidupan bagi warga, sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa membangun saluran air dari sumber mata air menuju permukiman.
Kegiatan ini merupakan tradisi masyarakat dalam niat, bernazar , atau keinginan, atas karunia mata air sebagai sumber kehidupan, yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Atas kelancaran pembangunan saluran air tersebut dilakukan secara gotong royong dengan harapan air dapat mengalir dan dimanfaatkan oleh seluruh warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, sesepuh kampung, pemuda, kaum perempuan, hingga seluruh warga yang ingin ikut serta.
Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan bersama di lingkungan kampung. Masyarakat menyiapkan berbagai perlengkapan acara, makanan, hasil bumi, serta kebutuhan untuk perjalanan menuju sumber mata air. Persiapan tersebut dilakukan secara gotong royong sehingga setiap warga dapat mengambil bagian sesuai dengan kemampuan dan perannya masing-masing.
Setelah seluruh persiapan selesai, masyarakat berjalan bersama menuju huluwotan atau sumber mata air. Prosesi berjalan bersama ini memiliki makna penting, yaitu menggambarkan persatuan, kebersamaan, dan kesadaran bahwa air merupakan kebutuhan bersama. Perjalanan menuju sumber mata air juga mengingatkan masyarakat terhadap perjuangan para leluhur yang dahulu harus membuka jalan dan membangun saluran air secara bersama-sama.
Sesampainya di lokasi huluwotan, masyarakat melaksanakan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Doa tersebut juga berisi harapan agar sumber air tetap mengalir, lingkungan sekitar tetap terjaga, masyarakat diberikan keselamatan, serta kehidupan warga senantiasa diberi keberkahan.
Dalam pelaksanaannya, unsur keagamaan dan adat berjalan berdampingan dengan tetap menempatkan rasa syukur kepada Tuhan sebagai inti utama kegiatan.
Sebagai bagian dari tradisi, masyarakat juga membawa tumpeng dan berbagai hasil bumi, seperti padi, pisang, umbi-umbian, serta hasil palawija. Hasil bumi tersebut melambangkan kemakmuran, kesuburan, dan keberkahan alam.
Setelah prosesi doa selesai, makanan biasanya dinikmati bersama oleh masyarakat. Makan bersama menjadi simbol kesetaraan, persaudaraan, dan rasa saling berbagi di antara warga.
Kepala Desa Malasari, H. Beni Hambali biasa dipangggil Hajiben, memaparkan bahwa Hajat Huluwotan Ciapit tidak hanya berbicara tentang upacara adat, tetapi juga mengandung pesan penting mengenai pelestarian lingkungan, antara lain sumber mata air merupakan bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga kebersihannya. Karena itu, kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak kawasan resapan air, menjaga pepohonan, serta menggunakan air secara bijaksana.” Ujarnya.
Lebih lanjut Hajiben menjelaskan, bagi masyarakat sekitar, bahwa keberadaan huluwotan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
” Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, mengairi lahan pertanian, perkebunan, serta menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, penghormatan terhadap sumber air bukan hanya simbol budaya, melainkan juga bentuk kesadaran ekologis dan tanggung jawab bersama.” Tegasnya.
Dari kegiatan ini terpatri nilai nilai gotong royong menjadi salah satu pesan utama dalam Hajat Huluwotan. Sejak pembangunan saluran air hingga pelaksanaan acara tahunan, tradisi ini mengajarkan bahwa persoalan bersama dapat diselesaikan melalui kerja sama.
Masyarakat tid











