ACEH SINGKIL kompas1.id — Aliansi Muda Penggerak Aceh Singkil (AMPAS) melontarkan kritik keras terhadap Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) terkait keberangkatan enam atlet silat tradisional Moccak Pakpak asal Aceh Singkil yang akan berlaga pada kejuaraan internasional di Malaysia.
Enam atlet tersebut membawa nama Aceh Singkil ke ajang internasional dan berjuang untuk mengharumkan nama daerah. Namun, di balik perjuangan tersebut, AMPAS menyoroti kondisi miris karena biaya keberangkatan disebut harus ditanggung melalui patungan orang tua atlet dan dukungan masyarakat.
Sekretaris Jenderal AMPAS, Rahman Syafi’i, S.H., mempertanyakan serius di mana peran pemerintah daerah dan KONI dalam memberikan dukungan serta pembinaan kepada atlet yang membawa nama Aceh Singkil hingga ke tingkat internasional.
«“Kalau orang tua atlet harus patungan agar anak-anak bisa mengikuti event internasional dan berjuang membawa nama Aceh Singkil ke Malaysia, lalu di mana dukungan dan pembinaan KONI serta pemerintah daerah?” ujar Rahman Syafi’i, S.H., dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).»
Menurut AMPAS, kondisi tersebut menjadi gambaran yang patut dipertanyakan mengenai perhatian pemerintah terhadap atlet daerah. Atlet yang seharusnya mendapatkan dukungan justru harus mengandalkan kemampuan orang tua dan masyarakat untuk dapat berangkat bertanding.
Rahman menilai, perjuangan para orang tua dan masyarakat membantu keberangkatan atlet merupakan bentuk kepedulian terhadap generasi muda. Namun, kondisi tersebut sekaligus menimbulkan pertanyaan besar terhadap keberadaan sistem pembinaan olahraga di Aceh Singkil.
“Jangan sampai atlet hanya dibutuhkan ketika membawa nama daerah dan meraih prestasi, tetapi ketika membutuhkan biaya untuk bertanding justru dibiarkan berjuang sendiri,” tegasnya.
Kami meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dan KONI tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut. Menurut AMPAS, pembinaan atlet harus dilakukan secara nyata, termasuk memastikan atlet yang berprestasi dan membawa nama daerah memperoleh dukungan yang layak sesuai ketentuan.
Rahman juga menilai keberangkatan enam atlet ke Malaysia seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk menunjukkan keseriusan dalam membangun prestasi olahraga, bukan justru membiarkan orang tua dan masyarakat menjadi pihak yang menanggung beban utama keberangkatan atlet.
“Mereka berangkat membawa nama Aceh Singkil. Jangan sampai semangat dan prestasi mereka lebih besar daripada perhatian pemerintah terhadap mereka,” pungkas Rahman.
Reporter Sabri
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT






