Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman Digelar di Pantai Glagah, Perkuat Nilai Luhur dan Keselarasan dengan Alam

- Penulis

Senin, 29 Juni 2026 - 01:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas1.id
Kulon Progo, 28 Juni 2026 — Tradisi Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman kembali dilaksanakan dengan khidmat di Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, pada hari Jumat, 26 Juni 2026. Ritual ini diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur atas segala anugerah kehidupan yang diterima, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keselarasan dan keseimbangan antara manusia serta alam lingkungan sekitar.

Di balik rangkaian kirab gunungan hasil bumi dan prosesi pelepasan sesaji ke laut, tersimpan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini mengajarkan bahwa keseimbangan antara manusia, budaya, dan lingkungan merupakan fondasi utama bagi keberlanjutan kehidupan bersama.

Warisan Sejak Zaman KGPAA Paku Alam II

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Labuhan merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Sura dalam penanggalan Jawa. Ini menjadi salah satu warisan budaya adiluhung yang terus dipelihara dan dilestarikan oleh Kadipaten Pakualaman sejak masa pemerintahan KGPAA Paku Alam II. Bagi masyarakat Jawa pada umumnya dan lingkungan Kadipaten Pakualaman pada khususnya, Labuhan bukan sekadar seremonial biasa, melainkan sebuah laku budaya yang sarat makna spiritual, sosial, dan ekologis. Melalui tradisi ini, diajarkan bagaimana manusia harus menempatkan dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta.

Rangkaian Prosesi di Pantai Glagah

Pada pelaksanaan tahun ini, prosesi berpusat di Pantai Glagah, sebuah kawasan yang memiliki keterkaitan sejarah yang erat dengan Kadipaten Pakualaman. Rangkaian kegiatan diawali dari Pesanggrahan Glagah, bangunan bersejarah yang dibangun pada masa pemerintahan KGPAA Paku Alam V dan dulunya berfungsi sebagai tempat persinggahan keluarga besar Pakualaman saat berkunjung ke wilayah pesisir selatan.

Baca Juga:  Pemkab Bandung Hadirkan Tiga Inovasi Baru untuk Pengembangan dan Pelestarian Budaya

Dari pesanggrahan tersebut, sebanyak lima ancak berisi gunungan hasil bumi serta berbagai perlengkapan upacara atau ubo rampe diarak menuju lokasi utama di tepi Pantai Glagah. Kirab budaya ini dipimpin langsung oleh GPH Wijoyo Harimurti dan GPH Indrokusumo. Mengiringi iring-iringan tersebut hadir pula jajaran pejabat dan keluarga Kadipaten, antara lain BRAy Indrokusumo, KRMT Kusumo Aminoto, KRMT Suryo Kusumo Hadiwijoyo, serta para Sedherek Dalem, Sentana Dalem, dan Abdi Dalem Kadipaten Pakualaman.

Suasana semakin sakral dan megah sepanjang perjalanan menuju pantai. Langkah kaki para abdi dalem diiringi oleh barisan pasukan bregada, pengangkatan tombak pusaka, alunan suara suling yang merdu, serta tabuhan gamelan dan musik tradisional Jawa lainnya. Arak-arakan budaya ini tidak hanya memancarkan nuansa sakral, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri yang memikat perhatian masyarakat setempat dan wisatawan. Sejak pagi hari, kawasan Pantai Glagah sudah dipadati warga yang datang menyaksikan jalannya tradisi.

Antusiasme masyarakat yang tinggi membuktikan bahwa warisan budaya seperti ini masih memiliki tempat yang penting dalam kehidupan sosial. Selain sebagai sarana menjaga kelestarian tradisi, Labuhan juga menjadi jembatan yang mempererat ikatan batin antara masyarakat dengan identitas dan warisan leluhurnya.

Mulyoko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Semarak Milangkala ke-16 Paguyuban Asep Dunia di Tasikmalaya, Perkuat Silaturahmi dan Lestarikan Budaya Sunda
Pekan Gawai Dayak Sintang ke-XIII 2026 Resmi Dibuka, Lestarikan Warisan Leluhur Sekaligus Dorong Ekonomi Daerah
Merawat Budaya dan Menjaga Air: Uji Publik Film Dokumenter “Nafas Leluhur” Ajak Publik Renungkan Nilai Tradisi
Menjaga Leuit, Merawat Masa Depan: Pelajaran Swasembada Pangan dari Kampung Adat
Peringati 10 Tahun Kerja Sama, DIY dan Victoria Hadirkan Kolaborasi Wayang Kulit dan Melbourne Symphony
PHRI dan Disparekraf Gelar Konsolidasi Perkuat Sinergi Pariwisata Daerah
Selamatan Keberangkatan BAIT Sugiarti Melanjutkan Pendidikan ke SMK Negeri 1 Sintang
Ekskavasi Situs Gedong Pusaka di Bantul Ungkap Fondasi dan Struktur Bangunan Masa Lalu
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 13:15 WIB

Semarak Milangkala ke-16 Paguyuban Asep Dunia di Tasikmalaya, Perkuat Silaturahmi dan Lestarikan Budaya Sunda

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:56 WIB

Pekan Gawai Dayak Sintang ke-XIII 2026 Resmi Dibuka, Lestarikan Warisan Leluhur Sekaligus Dorong Ekonomi Daerah

Selasa, 28 Juli 2026 - 23:42 WIB

Merawat Budaya dan Menjaga Air: Uji Publik Film Dokumenter “Nafas Leluhur” Ajak Publik Renungkan Nilai Tradisi

Selasa, 28 Juli 2026 - 02:17 WIB

Menjaga Leuit, Merawat Masa Depan: Pelajaran Swasembada Pangan dari Kampung Adat

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:59 WIB

Peringati 10 Tahun Kerja Sama, DIY dan Victoria Hadirkan Kolaborasi Wayang Kulit dan Melbourne Symphony

Berita Terbaru