KOMPAS1.id || Beginilah kondisi infrastruktur yang hingga kini masih dirasakan masyarakat pedalaman.Jalan penghubung Kenanga Payang menuju Nanga Dua mengalami kerusakan cukup parah.
Bahkan, jembatan kayu yang menjadi akses utama warga kini dalam kondisi memprihatinkan dan dinilai membahayakan keselamatan masyarakat yang melintas setiap hari.
Di tengah gencarnya pembangunan dan modernisasi yang terus digaungkan pemerintah, warga desa masih harus bertaruh nyawa demi melewati akses jalan seperti ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, jalan dan jembatan bukan sekadar fasilitas biasa, melainkan jalur vital untuk membawa hasil kebun, pergi ke sekolah, mengakses layanan kesehatan, hingga menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Warga menyebut kondisi tersebut sudah lama dikeluhkan, namun hingga kini belum terlihat adanya penanganan serius dari pihak terkait.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun langsung meninjau kondisi di lapangan dan tidak hanya menerima laporan dari balik meja.
Menurut warga, masyarakat pedalaman jangan terus dibiarkan merasa tertinggal dan dianaktirikan dalam pembangunan.
Sebab kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari megahnya pembangunan di perkotaan, tetapi juga dari sejauh mana perhatian pemerintah terhadap desa-desa terpencil yang selama ini menjadi penopang hasil bumi dan sumber kekayaan daerah.
Kondisi jalan disebut semakin memprihatinkan saat musim hujan tiba.
Jalan menjadi sulit dilalui, sementara jembatan kayu yang sudah rapuh dikhawatirkan sewaktu-waktu roboh dan memutus total akses penghubung antarwilayah.
Masyarakat kini hanya bisa berharap ada perhatian nyata dari pemerintah sebelum kondisi ini memakan korban.
Warga juga meminta pemerintah tidak hanya hadir saat agenda seremonial atau menjelang kepentingan tertentu, tetapi benar-benar membawa solusi nyata bagi masyarakat kecil di pelosok daerah.
Sebab pembangunan yang adil adalah pembangunan yang bisa dirasakan hingga ke ujung desa, bukan hanya terlihat di pusat kota.
Reporter Yanti














