Martabat Pers Bukan di KTA, Tapi di Karya

- Penulis

Kamis, 3 September 2026 - 12:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

KOMPAS1.id || Keberadaan pers kerap direduksi pada simbol formal seperti kartu tanda anggota (KTA). Seolah, kepemilikan kartu itu menjadi bukti sah bahwa seseorang adalah insan pers. Cara pandang ini keliru.

Menjadi jurnalis bukan soal identitas administratif, melainkan soal bagaimana fungsi pers dijalankan dengan tanggung jawab dan integritas.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Martabat insan pers tidak terletak pada selembar kartu, melainkan pada karya yang dihasilkan.

Karya bukan sekadar berita yang terbit, tetapi juga mencerminkan keberanian mengungkap fakta, menjaga objektivitas, dan komitmen pada kebenaran. KTA hanyalah atribut; karya adalah bukti.

Di era sekarang, informasi siapa pun bisa mengaku wartawan. Namun, tidak semua mampu menghadirkan karya yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ada yang mengejar legitimasi organisasi demi status, tetapi melupakan satu hal mendasar: kepercayaan publik tidak lahir dari keanggotaan, melainkan dari konsistensi dan kualitas kerja.

Karya jurnalistik yang kuat akan melampaui waktu. Ia dikenang karena keberaniannya membuka kebenaran, keberpihakannya pada keadilan, dan manfaatnya bagi masyarakat.

Baca Juga:  Waspada Jalan Berlubang, Babinsa Koramil 412-02/SS Cek Kondisi Gorong-Gorong di Desa Cempaka

Sebaliknya, tanpa karya yang bermutu, identitas apa pun menjadi hampa—tak memberi makna, tak menumbuhkan kepercayaan.

Lebih jauh, jurnalisme adalah panggilan untuk menjaga demokrasi. Pers berperan menyampaikan informasi, mengawasi kekuasaan, dan menjadi suara publik.

Tugas ini menuntut dedikasi, disiplin etika, serta keberanian moral—bukan sekadar status keanggotaan. Dari kepatuhan pada etika inilah lahir karya yang mengangkat martabat profesi.

Karena itu, menjadi bagian dari pers harus dipahami sebagai proses, bukan sekadar pencapaian administratif. Yang utama adalah terus mengasah kemampuan, memperluas wawasan, dan menghadirkan karya yang berdampak. Ketika karya berbicara, KTA hanya menjadi pelengkap—bukan penentu nilai diri.

Pada akhirnya, martabat pers hidup dalam karya. Kartu identitas bisa hilang atau usang, tetapi tulisan yang jujur dan berdampak akan tetap tinggal. Di sanalah nama seorang jurnalis bertahan—bukan karena atribut yang dimiliki, melainkan karena kontribusi yang diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pelantikan dan Pengukuhan LASQI Kabupaten Garut Masa Bakti 2025–2030, Zaenal Ma’ruf Terpilih sebagai Ketua
Kankan Taufik Barnawan S.IP Resmi Jabat Plt Camat Baleendah dan Camat Bojongsoang.
Polres Aceh Singkil Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H
Ketum FWJI: Ayoo Kita Bangun Media Center ATR BPN Jakarta Utara Yang Profesional
KDS : Peran Guru BK Kunci Bentuk Karakter Siswa dan Cegah Radikalisme.
Satpol PP dan Satpel Perhubungan Koja Terindikasi Bermain Kotor Soal Pembongkaran, Ini Alasannya
Lupa Pastikan Tungku Padam Sebelum Jemput Anak, Rumah di Wonokerto Pekalongan Terbakar
Oknum Wartawan Pemalak Pedagang di Baleendah Positif Narkoba*.
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 13:56 WIB

Pelantikan dan Pengukuhan LASQI Kabupaten Garut Masa Bakti 2025–2030, Zaenal Ma’ruf Terpilih sebagai Ketua

Kamis, 3 September 2026 - 13:51 WIB

Kankan Taufik Barnawan S.IP Resmi Jabat Plt Camat Baleendah dan Camat Bojongsoang.

Kamis, 3 September 2026 - 13:47 WIB

Polres Aceh Singkil Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

Kamis, 3 September 2026 - 13:44 WIB

Ketum FWJI: Ayoo Kita Bangun Media Center ATR BPN Jakarta Utara Yang Profesional

Kamis, 3 September 2026 - 13:10 WIB

KDS : Peran Guru BK Kunci Bentuk Karakter Siswa dan Cegah Radikalisme.

Berita Terbaru