KOMPAS1.ID TASIKMALAYA
Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia diwujudkan warga Desa Puspamukti, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, melalui kreasi seni budaya tradisional Sunda. Ibu-ibu di Kampung Kiara Bongkok, RT 17/RW 08, secara konsisten terus melestarikan kesenian Calung sebagai warisan leluhur yang tak ternilai harganya.
Di tengah arus zaman yang terus berubah, denting irama calung yang dimainkan dengan penuh semangat oleh para ibu tersebut menjadi bukti bahwa budaya Sunda tetap hidup, dijaga, dan diwariskan dengan penuh rasa cinta. Calung yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul ini menghasilkan alunan nada yang khas, mendayu, dan penuh kehangatan, menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri masyarakat Sunda.
“Agar Calung Tidak Hilang Ditelan Zaman”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut keterangan salah satu pencinta sekaligus penggiat seni calung di wilayah tersebut, Ibu Reni, pelestarian kesenian calung ini dilakukan secara terus-menerus dengan satu tujuan luhur: agar warisan budaya leluhur ini tidak hilang dan punah ditelan zaman.
“Kesenian calung, khususnya di sini, terus kami lestarikan agar tidak hilang. Dan masyarakat pun sangat antusias jika ada pentas seni calung,” ujar Ibu Reni.
Antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan calung memang terasa nyata. Setiap kali digelar pementasan, warga berbondong-bondong hadir menyaksikan dan menikmati alunan musik tradisional tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan masyarakat terhadap budaya leluhur masih sangat kuat dan hidup di hati warga.
Kemerdekaan Juga Berarti Merdeka Melestarikan Budaya
Memaknai kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, pelestarian seni calung ini menjadi makna yang sangat dalam. Kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan, melainkan juga merdeka menjaga identitas bangsa, merdeka melestarikan warisan budaya, dan merdeka mewariskan kekayaan seni leluhur kepada generasi penerus.
Langkah ibu-ibu Kampung Kiara Bongkok ini patut diapresiasi dan menjadi teladan. Di tangan para ibu, calung tetap terjaga, dimainkan, dan dicintai. Semoga semangat pelestarian ini terus menyala, sehingga budaya Sunda — khususnya seni calung — tetap lestari, terus berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat Desa Puspamukti serta generasi mendatang.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81! Merdeka dalam menjaga warisan budaya!***













