Sleman.DIY.Kompas1.id
Air hujan bukan sekadar anugerah yang turun dari langit, tetapi juga sumber kehidupan yang perlu dijaga, dimanfaatkan, dan disebarluaskan nilai kebermanfaatannya kepada masyarakat.
Semangat inilah yang menjadi fokus kunjungan 15 dosen Program Studi Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang Pengabdian kepada Masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengangkat tema “Mediatisasi Ekoteologi dalam Konten Dakwah Digital di Instagram: Representasi Etika Lingkungan”, kunjungan ini bertujuan menggali praktik-praktik baik dalam mengomunikasikan kepedulian terhadap lingkungan melalui media digital, sehingga pesan tentang pentingnya menjaga air hujan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Rombongan dipimpin oleh Ketua Program Studi KPI, Dr. Yopi Kusmiyati, M.Si., yang menjelaskan bahwa kunjungan ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening merupakan salah satu rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada 28–31 Juli 2026.
“Kami ingin melihat secara langsung bagaimana nilai-nilai ekoteologi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kami juga ingin mempelajari bagaimana media digital dapat menjadi sarana dakwah yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan pelestarian lingkungan, khususnya tentang pentingnya air hujan bagi kehidupan,” ungkapnya.
Di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, rombongan disambut oleh Kepala Sekolah Air Hujan, Kamaluddin, yang berharap perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis dalam menyebarluaskan edukasi mengenai air hujan.
“Air hujan adalah rahmat Allah yang sering kali belum dimanfaatkan secara optimal. Kami berharap UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat menjadi bagian dari gerakan menyampaikan pesan tentang pentingnya memanen dan memanfaatkan air hujan kepada masyarakat Indonesia melalui pendekatan akademik maupun media digital,” ujarnya.
Dalam sesi materi, Sri Wahyuningsih mengajak para dosen memahami konsep ekoteologi, yaitu mengenal Allah SWT melalui ayat-ayat kauniyah atau tanda-tanda kebesaran-Nya yang terdapat di alam semesta.
Menurutnya, setiap ciptaan Allah mengandung pelajaran bagi manusia, termasuk air hujan yang selama ini lebih sering dianggap sebagai fenomena alam biasa. Padahal, apabila dipahami dan dikelola dengan baik, air hujan mampu menjadi solusi bagi ketahanan air, menjaga keseimbangan lingkungan, mengurangi risiko banjir, sekaligus menjadi sumber air bersih bagi masyarakat.
Sebagai bagian dari pembelajaran, diperkenalkan pula konsep 5M, yaitu Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri. Konsep ini mengajarkan bahwa setiap tetes air hujan memiliki nilai kehidupan apabila dikelola dengan bijak. Menampung air hujan berarti menyelamatkan sumber daya, mengolahnya menjadikan air layak dimanfaatkan, meminumnya sebagai sumber air sehat, menabungnya sebagai cadangan saat musim kemarau, serta membangun kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air.
Konsep 5M juga menjadi jembatan yang mempertemukan ayat-ayat qauliyah dengan ayat-ayat kauniyah, bahwa menjaga air dan lingkungan bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga bagian dari pengamalan nilai-nilai keimanan.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening, diharapkan pesan tentang pentingnya memanfaatkan air hujan dapat semakin masif disebarluaskan melalui berbagai platform digital. Dengan demikian, air hujan tidak lagi dipandang sebagai air yang terbuang, melainkan sebagai karunia Allah yang harus dijaga, dimanfaatkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari budaya hidup yang berkelanjutan.
Sumber : SAH/Mikail
@AndiSuka_2026














