KOMPAS1.ID
KAPUAS HULU – Wilayah Nanga Nuar, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kembali dilanda banjir yang merendam akses jalan utama dan pemukiman warga pada Minggu sore, 17 Mei 2026. Curah hujan tinggi yang mengguyur sejak siang hari menyebabkan debit air melonjak drastis dan meluap ke daratan, membuat aktivitas warga terhenti total.
Genangan air yang cukup dalam memaksa pengendara roda dua maupun roda empat menghentikan perjalanan karena khawatir kendaraan rusak atau mogok. Jalanan utama pun berubah menjadi padat dan penuh kepanikan, seiring antrean kendaraan yang panjang serta warga yang berusaha mencari jalan aman untuk melintas.
Di tengah kekacauan yang dianggap musibah oleh sebagian besar warga, muncul sisi lain yang menarik perhatian. Sejumlah pemuda setempat justru bertindak sigap, membantu para pengendara yang kesulitan menembus banjir. Mulai dari mengangkat sepeda motor, mendorong kendaraan yang mogok, hingga menuntun warga melewati arus air yang deras.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi saling bantu itu perlahan berubah menjadi peluang mencari nafkah dadakan. Sebagian pemuda ini menerima uang sukarela dari para pengendara sebagai tanda terima kasih atas bantuan yang diberikan, terutama saat kendaraan mereka berhasil diselamatkan dari kerusakan atau terjebak di tengah banjir. Di tengah tekanan ekonomi yang berat, momen ini menjadi “ladang rezeki sementara” bagi anak muda di sana, yang memanfaatkan tenaga dan keberanian untuk mendapatkan tambahan penghasilan demi kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat di daerah pedalaman mampu bertahan dan mencari celah penghidupan meski di tengah situasi bencana.
Namun di balik itu, kekhawatiran mendalam menyelimuti warga. Banjir yang kian parah ini dinilai bukan semata-mata akibat faktor cuaca. Warga menduga kerusakan lingkungan menjadi penyebab utama. Berkurangnya pepohonan akibat pembukaan lahan yang tak terkontrol, pendangkalan parit, hingga rusaknya daerah resapan air membuat air hujan tak lagi dapat diserap oleh alam. Dulu, kawasan ini masih dikelilingi hutan lebat yang menahan air, kini air langsung meluber ke jalan dan rumah warga begitu hujan turun. Akibat paling berat pun jatuh kembali kepada masyarakat kecil.
Yang paling ironis, bencana yang seharusnya menjadi peringatan akan kelestarian alam kini mulai dianggap hal biasa. Para pemuda yang membantu saja sudah terbiasa dengan situasi serupa, mengingat hampir setiap musim hujan, banjir selalu datang menghampiri. Meski demikian, semangat kebersamaan warga Nanga Nuar tetap kuat; terlihat dari mereka yang rela turun ke air berlumpur demi menolong sesama tanpa pamrih.
ini, harapan besar ditujukan kepada pemerintah daerah dan instansi terkait. Warga berharap kehadiran pemerintah bukan hanya saat banjir menjadi sorotan, melainkan membawa solusi nyata dan berkelanjutan. Mulai dari perbaikan drainase, normalisasi sungai, pembangunan saluran air yang memadai, hingga penegakan aturan terhadap perusakan lingkungan dinilai sangat mendesak dilakukan.
Pasalnya, jika dibiarkan, banjir tidak hanya akan terus merusak fasilitas dan tempat tinggal, tapi juga perlahan mengubah pola hidup masyarakat. Musibah yang seharusnya dihindari, berpotensi menjadi rutinitas tahunan yang tak terelakkan—bahkan menjadi sumber penghasilan tak terduga bagi sebagian orang akibat keadaan yang terus berulang.
Reporter: DIDY














