Menyoal Arah Kebijakan Pendidikan Tinggi: Sudah Tepatkah Wacana Penutupan Program Studi.?

- Penulis

Senin, 4 Mei 2026 - 08:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas1.id Jakarta
-Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Universitas Trilogi menggelar diskusi publik bertema “Beyond the Classroom: Membangun Ekosistem Pendidikan Tinggi yang Adaptif dan Progresif” pada Senin, 4 Mei 2026. Diskusi ini menjadi ruang refleksi kritis atas arah kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk menguatnya wacana penutupan program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Lestari Agusalim, yang lebih dikenal sebagai Luken, Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Trilogi, menjadi pembicara utama dalam acara tersebut. Dalam pemaparannya, Luken menekankan bahwa tantangan utama pendidikan tinggi saat ini bukan semata pada jumlah lulusan, tetapi pada kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan dunia kerja.

Ia mengungkapkan bahwa meskipun jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, tidak sedikit yang mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, tingkat pengangguran pemuda mencapai 12,42%, sementara pengangguran lulusan perguruan tinggi berada di angka 5,39%. Menurut Luken, kondisi ini mencerminkan adanya mismatch antara pembelajaran di ruang kelas dan kebutuhan industri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konteks tersebut, Luken mengajak untuk melihat persoalan ini secara lebih mendasar. “Pertanyaannya bukan sekadar program studi mana yang harus ditutup, tetapi apakah sistem pendidikan tinggi kita sudah cukup adaptif dalam merespons perubahan kebutuhan keterampilan,” ujarnya. Ia menilai, pendekatan kebijakan yang terlalu berfokus pada penutupan program studi berisiko menyederhanakan persoalan yang sebenarnya lebih kompleks.

Baca Juga:  ‎Komisi II DPRK Aceh Singkil Selidiki Klaim Tanah di Luar HGU PT PLB

Luken juga menyoroti disrupsi keterampilan akibat perkembangan teknologi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan. Ia memperingatkan bahwa sekitar 40% keterampilan saat ini berpotensi hilang pada 2030. Kondisi ini menuntut pendidikan tinggi untuk tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan adaptif dan fleksibel.

Menurutnya, pendidikan tinggi perlu bergerak melampaui pendekatan konvensional yang berbasis teori semata. Penguatan pengalaman praktis melalui magang, kerja lapangan, dan kolaborasi dengan industri menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan pasar kerja. “Pendidikan harus menjadi jembatan, bukan sekadar menara gading,” tegasnya.

Lebih lanjut, Luken menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi prioritas nasional. Dengan posisi Indonesia yang masih berada di peringkat 96 dalam Indeks Modal Manusia (IMM) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), investasi pada pendidikan, kesehatan, dan keterampilan tenaga kerja menjadi krusial untuk meningkatkan daya saing global.

Di akhir diskusi, Luken mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri—untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif. “Alih-alih sekadar menutup program studi, yang lebih mendesak adalah memastikan sistem pendidikan tinggi mampu bertransformasi dan relevan dengan dinamika zaman, “tutupnya.

(Noval).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diduga Curi Uang Rp17 Juta, Seorang Pemuda Ditangkap Polsek Banjit di Bandar Lampung
Polres Way Kanan Ringkus Pelaku Curat HP Menggunakan Bambu di Baradatu
ANTISIPASI KEJAHATAN, POLSEK MARGAASIH CEK GUDANG DI DESA NANJUNG
KAWAL TRADISI REBO WAKASAN, POLSEK MARGAASIH AMANKAN KEGIATAN DI PONPES DARUSUR
JELANG HUT KE-81 KEMERDEKAAN RI, ATR/BPN KABUPATEN BANDUNG SEMARAKKAN KANTOR DENGAN NUANSA MERAH PUTIH
Polisi Berhasil Amankan Belasan Botol Miras Di Wanaraja
AKTIVITAS WARGA SETIAP PAGI MENGGUNAKAN TRANS METRO PASUNDAN, JADI PILIHAN TRANSPORTASI HARIAN
*Tindak keras pelaku Begal polres subang komitmen berantas begal bersama masyarakat dan segenap elemen masyrakat*
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 05:26 WIB

Diduga Curi Uang Rp17 Juta, Seorang Pemuda Ditangkap Polsek Banjit di Bandar Lampung

Rabu, 12 Agustus 2026 - 05:20 WIB

Polres Way Kanan Ringkus Pelaku Curat HP Menggunakan Bambu di Baradatu

Rabu, 12 Agustus 2026 - 04:01 WIB

ANTISIPASI KEJAHATAN, POLSEK MARGAASIH CEK GUDANG DI DESA NANJUNG

Rabu, 12 Agustus 2026 - 03:14 WIB

JELANG HUT KE-81 KEMERDEKAAN RI, ATR/BPN KABUPATEN BANDUNG SEMARAKKAN KANTOR DENGAN NUANSA MERAH PUTIH

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:31 WIB

Polisi Berhasil Amankan Belasan Botol Miras Di Wanaraja

Berita Terbaru