HANTAM MALUT: Menegaskan Bahwa Emisi Carbon Smelter PT Harita Group, Adalah Bukti Nyata Ekosida di Pulau Obi.

- Penulis

Selasa, 6 Januari 2026 - 07:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas 1.id Jakarta_ Harian Advokasi Tambang Maluku Utara, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara telah menjadi simbol tragis dari ekosida dan krisis lingkungan akibat ekspansi industri tambang nikel. Korporasi seperti Harita Group semakin memperdalam jurang ketimpangan ekologis, ekonomi, dan sosial sebagaimana terjadi saat ini.

Diretktur HANTAM MALUT Alfatih Soleman, menegaskan bahwa Fungsi vital pohon yang sering dilupakan para Korporasi adalah peran mereka sebagai Penyerap Karbon.

“Laut memang memproduksi oksigen, tetapi hutanlah yang bekerja keras menyerap racun Karbon Dioksida (CO2) yang kita hasilkan dari pabrik tambang Nikel ini. Efek dominonya mengerikan:
1. CO2 di udara meningkat drastis.
2. Suhu bumi memanas (Global Warming).
3. Lautan menyerap panas dan kelebihan CO2 tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebab Harita dengan pabrik nikel melalui fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) berbasis teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL)—teknologi sangat intensif terhadap air dan menghasilkan limbah berbahaya, termasuk residu asam dan logam berat, ini dapat menimbulkan resiko kerusakan lingkungan sangat tinggi.

Baca Juga:  SEJARAH TERTULIS: Setelah 22 Tahun, UU PPRT Resmi Lahir, Nasib PRT Kini Terlindungi

Lanjut Alfatih, bahwa Harita sebelumnya mengklaim hilirisasi nikel merupakan kontribusi kepada transisi energi hijau. Tetapi nyatanya, narasi keberlanjutan ini menyembunyikan kondisi riskan akan praktik perampasan dan pengrusakan ruang hidup dan sumber kehidupan warga setempat.

Kami menghimbau kepada seluruh pemangku kepentingan di daerah Maluku Utara, bahwa Emisi Carbon adalah Ancaman Pemusnahan Alam secara brutal.

Lihat saja Dampak ekologi dari proyek ini tidak berdiri sendiri, tetapi berjejaring dengan bentuk-bentuk kekerasan struktural. Para nelayan kehilangan akses terhadap wilayah tangkap karena laut dibatasi zona eksklusif industri. Para petani kehilangan sumber air bersih karena sungai-sungai keruh dan tercemar residu kimia. Sementara itu, ruang hidup perlahan menyempit, masyarakat dipaksa bertransisi ke ekonomi tambang yang rentan, dan tidak berkelanjutan.

(Noval).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

287 WNA Diciduk di Markas Judi Online Hayam Wuruk! Komisi III DPR Apresiasi Bareskrim, Desak Usut Aktor Intelektual hingga Tuntas
Prabowo Tegaskan Masa Depan Indonesia Ditentukan oleh Ilmu Pengetahuan, Riset, dan SDM Unggul
300 Santri Ponpes Qurrotu Nafsin Kunjungi Istana Negara, Belajar Sejarah Bangsa dan Kepemimpinan Nasional
Prabowo Resmikan 1.151 Km Jalan Daerah di 37 Provinsi, Percepat Akses Ekonomi dan Pemerataan Hingga Pelosok
Presiden Prabowo: Himbara Harus Jadi Motor Penggerak Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat
Prabowo Terima Utusan Khusus Qatar, Investasi Rp65 Triliun dan Kunjungan Emir Jadi Fokus Pertemuan
Lampung Torehkan Prestasi Nasional, Gubernur Mirza Raih Penghargaan Pemimpin Daerah Inspiratif Sektor Pertanian
Swedia dan Ambisi “Manusia Digital”: Kemudahan Mutlak atau Awal Distopia ​
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 23:57 WIB

287 WNA Diciduk di Markas Judi Online Hayam Wuruk! Komisi III DPR Apresiasi Bareskrim, Desak Usut Aktor Intelektual hingga Tuntas

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:49 WIB

Prabowo Tegaskan Masa Depan Indonesia Ditentukan oleh Ilmu Pengetahuan, Riset, dan SDM Unggul

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:51 WIB

300 Santri Ponpes Qurrotu Nafsin Kunjungi Istana Negara, Belajar Sejarah Bangsa dan Kepemimpinan Nasional

Selasa, 23 Juni 2026 - 14:10 WIB

Prabowo Resmikan 1.151 Km Jalan Daerah di 37 Provinsi, Percepat Akses Ekonomi dan Pemerataan Hingga Pelosok

Jumat, 19 Juni 2026 - 01:37 WIB

Presiden Prabowo: Himbara Harus Jadi Motor Penggerak Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat

Berita Terbaru