KOMPAS1.id || Keberadaan pers kerap direduksi pada simbol formal seperti kartu tanda anggota (KTA). Seolah, kepemilikan kartu itu menjadi bukti sah bahwa seseorang adalah insan pers. Cara pandang ini keliru.
Menjadi jurnalis bukan soal identitas administratif, melainkan soal bagaimana fungsi pers dijalankan dengan tanggung jawab dan integritas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Martabat insan pers tidak terletak pada selembar kartu, melainkan pada karya yang dihasilkan.
Karya bukan sekadar berita yang terbit, tetapi juga mencerminkan keberanian mengungkap fakta, menjaga objektivitas, dan komitmen pada kebenaran. KTA hanyalah atribut; karya adalah bukti.
Di era sekarang, informasi siapa pun bisa mengaku wartawan. Namun, tidak semua mampu menghadirkan karya yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ada yang mengejar legitimasi organisasi demi status, tetapi melupakan satu hal mendasar: kepercayaan publik tidak lahir dari keanggotaan, melainkan dari konsistensi dan kualitas kerja.
Karya jurnalistik yang kuat akan melampaui waktu. Ia dikenang karena keberaniannya membuka kebenaran, keberpihakannya pada keadilan, dan manfaatnya bagi masyarakat.
Sebaliknya, tanpa karya yang bermutu, identitas apa pun menjadi hampa—tak memberi makna, tak menumbuhkan kepercayaan.
Lebih jauh, jurnalisme adalah panggilan untuk menjaga demokrasi. Pers berperan menyampaikan informasi, mengawasi kekuasaan, dan menjadi suara publik.
Tugas ini menuntut dedikasi, disiplin etika, serta keberanian moral—bukan sekadar status keanggotaan. Dari kepatuhan pada etika inilah lahir karya yang mengangkat martabat profesi.
Karena itu, menjadi bagian dari pers harus dipahami sebagai proses, bukan sekadar pencapaian administratif. Yang utama adalah terus mengasah kemampuan, memperluas wawasan, dan menghadirkan karya yang berdampak. Ketika karya berbicara, KTA hanya menjadi pelengkap—bukan penentu nilai diri.
Pada akhirnya, martabat pers hidup dalam karya. Kartu identitas bisa hilang atau usang, tetapi tulisan yang jujur dan berdampak akan tetap tinggal. Di sanalah nama seorang jurnalis bertahan—bukan karena atribut yang dimiliki, melainkan karena kontribusi yang diberikan.










