
ACEH SINGKIL kompas1.id — Tepat sekitar 1 tahun 6 bulan sejak Bupati Aceh Singkil Sapriadi Oyon dan Hamzah dilantik pada Februari 2025, pertanyaan publik semakin keras: ke mana janji-janji kampanye yang dulu disampaikan kepada rakyat?
Masa kampanye sudah berlalu. Spanduk sudah diturunkan, baliho sudah berganti, dan pesta demokrasi telah selesai. Kini yang tersisa adalah tanggung jawab untuk membuktikan apakah janji-janji tersebut benar-benar mampu diwujudkan.
Budi Harjo selaku pemerhati daerah menegaskan, masyarakat Aceh Singkil tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai menyampaikan janji, tetapi membutuhkan bukti nyata yang bisa dirasakan rakyat.
“Sudah satu tahun enam bulan memimpin. Jangan sampai masyarakat terus disuruh menunggu sementara janji kampanye hanya menjadi arsip politik. Rakyat memilih karena percaya pada janji. Sekarang waktunya janji itu dipertanggungjawabkan,” tegas Budi Harjo.
Menurutnya, pemerintah daerah harus berani membuka kepada publik secara transparan capaian kepemimpinan Sapriadi Oyon dan Hamzah.
Berapa janji kampanye yang sudah selesai? Berapa yang sedang dikerjakan? Berapa yang belum disentuh sama sekali?
“Jangan hanya bicara program dan keberhasilan. Tunjukkan ukurannya. Tunjukkan hasilnya. Masyarakat berhak tahu apa yang benar-benar sudah dikerjakan selama satu tahun enam bulan ini,” ujarnya.
Budi Harjo juga menyentil DPRK Aceh Singkil agar tidak ikut diam. Sebagai lembaga pengawasan, DPRK harus berani mempertanyakan capaian pemerintah daerah dan meminta pertanggungjawaban atas program yang dijanjikan kepada masyarakat.
“Kalau DPRK hanya diam, lalu siapa yang mengawal suara rakyat? Jangan sampai ketika kampanye semua berlomba mengaku sebagai penyambung aspirasi rakyat, tetapi setelah duduk di kursi kekuasaan justru rakyat yang disuruh menunggu,” katanya.
Ia menilai, satu tahun enam bulan bukan waktu yang singkat untuk sekadar meminta masyarakat bersabar. Pemerintah memang membutuhkan proses dalam merealisasikan program, tetapi proses tersebut harus memiliki target, arah dan hasil yang jelas.
“Kalau memang ada janji yang belum terealisasi, katakan terus terang kepada rakyat. Jangan ditutup-tutupi. Jelaskan kendalanya dan kapan target penyelesaiannya. Rakyat lebih menghargai kejujuran daripada janji yang terus diulang tanpa kepastian,” tegasnya.
Budi Harjo meminta Bupati Sapriadi Oyon dan Hamzah tidak alergi terhadap kritik. Kritik masyarakat merupakan bagian dari kontrol publik terhadap pemerintahan yang menggunakan uang dan mandat rakyat.
“Jangan tunggu masyarakat kehilangan kesabaran baru kemudian pemerintah sibuk mencari pembenaran. Yang ditagih rakyat bukan pencitraan, bukan baliho, bukan slogan—yang ditagih adalah janji dan kerja nyata,” pungkasnya.
Kini masyarakat Aceh Singkil menunggu jawaban sederhana dari pemerintah:
JANJI KAMPANYE SUDAH DIREALISASIKAN ATAU MASIH SEKADAR JANJI?
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan menilai berapa banyak janji yang diucapkan, tetapi berapa banyak janji yang benar-benar ditepati. (SB)









