Kompas1.id
Bandung, 30 Juli 2026 — Diskusi mendalam mengenai pelestarian lingkungan dan kearifan lokal kembali menggema di ruang publik Kota Bandung. Bertempat di Café Tudeblang pada Kamis (30/7), sebuah perbincangan interaktif menghadirkan para akademisi dan praktisi lintas bidang untuk membedah esensi pentingnya menjaga sumber air berbasis nilai-nilai tradisi Sunda, yang turut disorot melalui medium film dokumenter.
Acara yang diinisiasi di café yang berlokasi di Bandung ini menyoroti tema besar tentang Ngalokat Cai—sebuah upaya spiritual dan ekologis untuk memuliakan air.
Air dalam Naskah Sunda Kuno dan Kebijaksanaan Leluhur
Narasumber pertama, Soni Sonjaya, SH, M.Ikom, memaparkan pandangannya dari sudut pandang filologi dan naskah Nusantara. Menurutnya, konsep Patanjala dalam naskah Sunda kuno merekam bagaimana leluhur memandang air bukan sekadar kebutuhan fisik, melainkan sistem tata kelola kehidupan yang holistis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Patanjala sebutan untuk pengelolaan air atau bagaimana manusia mengelola air dan itu tercantum dalam naskah Sunda kuno. Kalau kita berbicara soal air tentu ini jadi sumber penghidupan pertama dari segala kehidupan karena ia dapat menumbuhkan tetumbuhan, hewan, dan manusia. Bilamana air tidak dikelola dengan baik, lantas bagaimana keberlangsungan hidup semua makhluk?” ujar Soni.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kearifan lokal masyarakat Sunda masa lalu telah menempatkan konservasi air sebagai pilar utama peradaban.
Tantangan Modernitas dan Identitas Budaya
Sementara itu, Bonie Nugraha, S.Sos, MA, menyoroti pentingnya merefleksikan kembali akar budaya bangsa di tengah gempuran modernisasi dan standardisasi global. Ia menekankan bahwa pelestarian tradisi leluhur merupakan wujud nyata harga diri bangsa.
”
Melestarikan kegiatan apa yang telah dilakukan oleh leluhur adalah suatu bentuk penghormatan terhadap identitas diri, suku, dan budaya yang terus-menerus dilakukan dari dulu hingga sekarang,” ungkap Bonie.
Ia juga mengkritisi kecenderungan masyarakat era modern yang kerap mengadopsi standar asing, padahal kekayaan nilai nusantara jauh lebih relevan menjawab krisis hari ini. Bonie menambahkan bahwa kajian budaya harus bertransformasi menjadi gerakan nyata.
”Kajian budaya yang dijadikan alat propaganda—dalam hal ini tema ‘ngalokat irung cai’—harus menghasilkan perubahan pada mindset masyarakat untuk menghormati air dengan tidak mengotori sungai, tidak membuang sampah ke sungai, dan lain-lain, karena sejatinya air adalah sumber kehidupan,” tegasnya.
Film Dokumenter sebagai Media Advokasi Lingkungan
Sebagai pelengkap perspektif, praktisi dan akademisi seni rupa serta perfilman, Dara Bunga Rembulan, S.Sn, M.Sn, membedah karya dokumenter lokal garapan kreator muda Irfan dan Rizki yang turut menjadi bahan diskursus dalam pertemuan tersebut. Ia menilai bahwa medium audio-visual memiliki kekuatan strategis dalam menyuarakan isu-isu ekologi.
”Kalau kita berbicara soal film, tujuan utama dari film adalah sebagai media advokasi. Karena ini mengangkat isu budaya, maka tujuan dari pembuatan film tersebut adalah bagaimana masyarakat luas dapat menyadari kebudayaan yang harus dilestarikan juga dijaga dengan kesungguhan dari sudut pandang menjaga sumber mata air,” jelas Dara.
Ia juga memberikan apresiasi konstruktif terhadap karya dokumenter yang dibahas. Menurutnya, struktur dan bentuk film dokumenter karya Irfan dan Rizki secara substansial telah memenuhi kaidah estetika dan sinematik yang baik, tinggal diberikan sentuhan akhir agar pesan yang disampaikan lebih mendetail dan menggugah emosi penonton.
Penutup
Diskusi di Café Tudeblang ini ditutup dengan kesimpulan bahwa pelestarian air melalui pendekatan budaya dan seni bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan strategi bertahan hidup (survival strategy) bagi generasi masa depan di Bandung dan tatar Sunda secara luas. Sinergi antara naskah kuno, kesadaran sosiologis, dan media film diharapkan mampu menyulut kesadaran kolektif untuk kembali merawat sumber-sumber kehidupan yang tersisa.#BFIC BrotherhoodForIndonesianCulture#Budayaleluhur#BaktiUntukNegri Bob Hariawan Kabiro kota Bandung














