KOMPAS1.ID
SIDOARJO, 27 Juli 2026 – Kondisi tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 10.D, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, dinilai semakin mengkhawatirkan pasca terjadinya retakan dan rembesan yang muncul beberapa waktu lalu . Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan situasi ini mengancam keselamatan warga serta berpotensi mengganggu jalur kereta api yang berada tak jauh dari lokasi rawan tersebut.
Berdasarkan pantauan di lapangan, struktur tanggul tambahan yang terbuat dari campuran tanah dan lumpur mengalami keretakan di beberapa bagian, dengan lebar sisa tanggul yang tersisa hanya sekitar 45 sentimeter. Jarak bibir tanggul dengan permukaan lumpur pun semakin sempit, berkisar antara 25 hingga 35 sentimeter, sehingga risiko luapan semakin terbuka lebar .
Emil menyatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Di tengah kekhawatiran tersebut, pihaknya mulai mempertimbangkan langkah strategis berupa relokasi warga yang tinggal di kawasan berisiko tinggi. Meski diakui langkah ini tidak mudah karena berkaitan erat dengan tempat tinggal dan mata pencaharian warga, namun harus diambil demi mencegah dampak yang lebih fatal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami tidak boleh menunda. Jika kondisi terus memburuk, nyawa warga adalah yang paling utama. Kami sadar relokasi menyentuh aspek kehidupan masyarakat, namun itu menjadi salah satu opsi yang harus dikaji secara matang,” ujar Emil.
Saat ini penanganan darurat terus dilakukan oleh Kementerian PUPR bersama Satuan Kerja Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), termasuk penguatan struktur tanggul dan pemantauan intensif setiap saat . Berbagai elemen meminta agar penanganan dipercepat secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam, agar potensi bencana tidak melebar dan merugikan lebih banyak pihak.
Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada, serta senantiasa mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang apabila sewaktu-waktu diperlukan evakuasi atau langkah pencegahan lain.
***














