Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Strategis atau Beban Baru Negara ?

- Penulis

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas1.id Jakarta, 4 Juni 2026 — Auditorium Universitas Trilogi menjadi panggung perdebatan nasional tentang masa depan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tiga tokoh akademisi dan praktisi — Lestari Agusalim, Dr. Ir. Wachyu Hari Haji, S.Kom., MM, dan Dr. Jufrinaldi, S.T., M.Si — menyampaikan pandangan tajam mengenai apakah MBG merupakan solusi strategis bagi kualitas manusia Indonesia atau justru beban fiskal baru bagi negara.

Lestari Agusalim: MBG Sebagai Investasi Modal Manusia
Dalam paparannya, Lestari Agusalim menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program makan gratis, melainkan investasi jangka panjang pada gizi, pendidikan, dan produktivitas. Data menunjukkan stunting nasional masih 19,8%, Indeks Modal Manusia Indonesia hanya 0,54 (peringkat 96 dari 174 negara), dan 43,5% penduduk belum mampu menjangkau diet sehat.
“Tidak ada negara maju yang lebih dahulu kaya lalu memperbaiki kualitas manusianya. Justru mereka memperbaiki kualitas manusia terlebih dahulu sehingga menjadi kaya,” tegas Lestari.

Wachyu Hari Haji: SDM Penentu Keberhasilan
Dr. Wachyu Hari Haji menyoroti aspek sumber daya manusia (SDM) sebagai titik rawan penentu keberhasilan MBG. Ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak ditentukan oleh sekadar tersedianya makanan, melainkan oleh kompetensi dan integritas manusia yang mengelola program.
Kasus Cimahi (keracunan 43 siswa), distribusi molor di Sulawesi Selatan, hingga relawan dapur yang bekerja tanpa perlindungan menjadi bukti bahwa SDM lapangan, guru, relawan, dan pejabat pengambil keputusan adalah faktor kritis.
“Satu kelalaian manusia di dapur dapat berubah menjadi darurat kesehatan publik. MBG mutlak membutuhkan pengawas gizi dan petugas kontrol kualitas yang sangat kompeten,” ujar Wachyu.

Jufrinaldi: Tantangan Fiskal dan Tata Kelola
Dr. Jufrinaldi menekankan dimensi fiskal dan tata kelola. Alokasi MBG 2026 mencapai Rp335 triliun atau 1,30% PDB, setara 8,7% belanja negara. Angka besar ini memicu pertanyaan publik: apakah manfaatnya sebanding dengan biayanya?
Ia menyoroti risiko ketergantungan fiskal, potensi inefisiensi, dan korupsi. Menurutnya, keberhasilan MBG membutuhkan monitoring digital real-time, transparansi pengelolaan, dan kolaborasi lintas sektor.
“Pendekatan multisektoral berbasis data adalah kunci keberhasilan dan keberlanjutan MBG. Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan program harus diperkuat,” jelas Jufrinaldi.

Kesimpulan
Ketiga pembicara sepakat bahwa MBG akan menjadi solusi strategis bila setiap rupiah benar-benar berubah menjadi gizi, belajar, produktivitas, dan nilai tambah lokal. Namun, bila tata kelola lemah, program ini berisiko menjadi beban negara.

“Di balik satu kotak makan terdapat kerja manusia. Masa depan kebijakan pangan ini tidak ditentukan oleh seberapa besar anggarannya, melainkan bergantung pada kualitas orang-orang yang mengelolanya.”

(Noval).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT
Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage
Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”
Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan
Perkuat Pembangunan Desa, Pemdes Tenjolaya Gandeng Unpas
Semarak HUT TNI ke-81, TNI-Polri dan Komunitas Bersatu Gelar Touring, Karya Bakti dan Bakti Sosial di Goa Seplawan
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 01:50 WIB

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT

Sabtu, 26 September 2026 - 11:21 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage

Sabtu, 26 September 2026 - 11:13 WIB

Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat

Sabtu, 26 September 2026 - 10:05 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”

Sabtu, 26 September 2026 - 08:41 WIB

Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan

Berita Terbaru