KOMPAS1.ID
BANDUNG – Sepak bola sejatinya adalah panggung kebahagiaan universal. Ketika peluit panjang berbunyi dan kemenangan berhasil direngkuh, jalanan kota seketika berubah menjadi lautan perayaan. Kemenangan Persib Bandung atas PSM Makassar yang diraih dengan skor 2-1 dalam laga pekan ke-33 BRI Super League 2025/2026 seharusnya menjadi momentum sakral yang mempersatukan seluruh elemen warga dalam satu rasa: bangga. Namun sayang, euforia yang semestinya indah itu kembali dinodai oleh noktah hitam yang meresahkan.
Insiden kekerasan, termasuk aksi pembacokan yang terjadi di tengah keriuhan konvoi di salah satu sudut jalanan Kota Bandung, adalah sebuah ironi yang memedihkan. Kehadiran aparat kepolisian di lokasi kejadian malam itu menjadi saksi bisu betapa tipisnya batas antara perayaan dan petaka. Kita patut bertanya: sejak kapan rasa syukur atas sebuah pencapaian olahraga berganti rupa menjadi teror yang mengancam nyawa sesama warga di ruang publik?
Fanatisme yang Salah Arah
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Merayakan kemenangan di ruang publik adalah hak setiap suporter. Konvoi dan gemuruh di jalanan adalah ekspresi kultural yang sah dalam dunia sepak bola. Namun, batas tegas antara euforia dan anarki tidak boleh dikaburkan. Ketika sebuah titik keramaian di Kota Kembang yang seharusnya penuh dengan tawa kemenangan justru berubah mencekam akibat tindakan kriminal, maka itu bukan lagi bentuk kecintaan terhadap klub. Itu adalah premanisme yang berlindung di balik topeng fanatisme.
Sangat disayangkan jika kerja keras para pemain di lapangan hijau, serta nama baik klub yang dirawat dengan profesionalisme tinggi, harus tercoreng oleh segelintir oknum. Tindakan anarkis di lokasi tersebut tidak hanya merugikan para korban secara fisik, tetapi juga merampas rasa aman masyarakat Bandung secara komunal yang berhak menikmati kotanya tanpa rasa takut.
Darurat Kedewasaan dan Penegakan Hukum
Kejadian ini menjadi sinyal kuat bahwa ada pekerjaan rumah yang belum usai dalam mengedukasi basis massa suporter. Suporter yang besar bukan hanya dinilai dari seberapa militan mereka bernyanyi di tribun atau seberapa padat mereka memenuhi jalanan protokol saat konvoi. Suporter yang besar adalah mereka yang mampu menjaga martabat kotanya, menghormati hukum, dan memastikan bahwa kemenangan bisa dinikmati oleh semua orang—termasuk oleh masyarakat sekitar lokasi yang kebetulan melintas.
Kami di jajaran redaksi mendukung dan mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polrestabes Bandung, untuk mengusut tuntas insiden di tempat kejadian perkara tersebut dan menindak tegas seluruh pelaku tanpa pandang bulu. Penegakan hukum yang transparan dan tanpa kompromi adalah kunci utama untuk memberikan efek jera, sekaligus memutus rantai kekerasan jalanan yang kerap menunggangi momentum perayaan olahraga.
“Kemenangan sejati tidak pernah membutuhkan darah, tangis korban, atau rasa takut warga. Sudah saatnya kita merenung dan berbenah: mari rayakan kemenangan dengan kepala tegak dan hati yang damai, bukan dengan senjata yang melukai.”
BOB HARIAWAN
Kabiro Kota Bandung














