KOMPAS1.ID
Jakarra 18 September 2026 Sejarah kedokteran Indonesia pernah mencatatkan tinta emas yang tak hanya memukau dunia medis, tetapi juga menggetarkan hati nurani kemanusiaan. Kisah perjuangan melintasi batas ketidakmungkinan itu bermula pada 31 Juli 1987 di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, saat pasangan Tularji dan Hartini menyambut kelahiran putri kembar siam mereka,
Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani.
Keduanya lahir dalam kondisi dempet kepala (craniopagus), sebuah kondisi medis langka dan kompleks yang menghadirkan tantangan amat besar. Di tengah keraguan dan keterbatasan fasilitas masa itu, harapan tidak pernah padam. Keberanian orang tua yang dipadukan dengan keahlian serta dedikasi luar biasa dari tim dokter Indonesia—yang dipimpin oleh pakar bedah saraf Prof. Dr. dr. Padmosantjojo, Sp.BS—menjadi titik balik perjalanan hidup Yuliana dan Yuliani.
Operasi pemisahan kepala yang berisiko tinggi tersebut berhasil dijalankan dengan penuh ketelitian dan keberanian moral. Lebih dari sekadar pencapaian teknis kedokteran, momen tersebut membuktikan kekuatan kolaborasi, rasa empati, dan keyakinan bahwa setiap nyawa memiliki hak untuk berjuang meraih masa depan yang cerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kini, bertahun-tahun berlalu, kisah Yuliana dan Yuliani tetap menjadi simbol optimisme dan inspirasi nyata. Perjalanan hidup mereka mengajarkan bahwa tidak ada batas yang tak bisa dilampaui ketika ilmu pengetahuan, ketulusan, dan kegigihan bersatu demi kemanusiaan. Dari selembar catatan sejarah ini, kita diingatkan untuk terus memelihara harapan, memperjuangkan setiap peluang, dan percaya bahwa keajaiban sering kali lahir dari dedikasi tanpa
henti.
Bob Hariawan. Kabiro Kota Bandung












