Menyoal Arah Kebijakan Pendidikan Tinggi: Sudah Tepatkah Wacana Penutupan Program Studi.?

Berita207 Dilihat

Kompas1.id Jakarta
-Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Universitas Trilogi menggelar diskusi publik bertema “Beyond the Classroom: Membangun Ekosistem Pendidikan Tinggi yang Adaptif dan Progresif” pada Senin, 4 Mei 2026. Diskusi ini menjadi ruang refleksi kritis atas arah kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk menguatnya wacana penutupan program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Lestari Agusalim, yang lebih dikenal sebagai Luken, Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Trilogi, menjadi pembicara utama dalam acara tersebut. Dalam pemaparannya, Luken menekankan bahwa tantangan utama pendidikan tinggi saat ini bukan semata pada jumlah lulusan, tetapi pada kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan dunia kerja.

banner 336x280

Ia mengungkapkan bahwa meskipun jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, tidak sedikit yang mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, tingkat pengangguran pemuda mencapai 12,42%, sementara pengangguran lulusan perguruan tinggi berada di angka 5,39%. Menurut Luken, kondisi ini mencerminkan adanya mismatch antara pembelajaran di ruang kelas dan kebutuhan industri.

Dalam konteks tersebut, Luken mengajak untuk melihat persoalan ini secara lebih mendasar. “Pertanyaannya bukan sekadar program studi mana yang harus ditutup, tetapi apakah sistem pendidikan tinggi kita sudah cukup adaptif dalam merespons perubahan kebutuhan keterampilan,” ujarnya. Ia menilai, pendekatan kebijakan yang terlalu berfokus pada penutupan program studi berisiko menyederhanakan persoalan yang sebenarnya lebih kompleks.

Luken juga menyoroti disrupsi keterampilan akibat perkembangan teknologi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan. Ia memperingatkan bahwa sekitar 40% keterampilan saat ini berpotensi hilang pada 2030. Kondisi ini menuntut pendidikan tinggi untuk tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan adaptif dan fleksibel.

Menurutnya, pendidikan tinggi perlu bergerak melampaui pendekatan konvensional yang berbasis teori semata. Penguatan pengalaman praktis melalui magang, kerja lapangan, dan kolaborasi dengan industri menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan pasar kerja. “Pendidikan harus menjadi jembatan, bukan sekadar menara gading,” tegasnya.

Lebih lanjut, Luken menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi prioritas nasional. Dengan posisi Indonesia yang masih berada di peringkat 96 dalam Indeks Modal Manusia (IMM) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), investasi pada pendidikan, kesehatan, dan keterampilan tenaga kerja menjadi krusial untuk meningkatkan daya saing global.

Di akhir diskusi, Luken mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri—untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif. “Alih-alih sekadar menutup program studi, yang lebih mendesak adalah memastikan sistem pendidikan tinggi mampu bertransformasi dan relevan dengan dinamika zaman, “tutupnya.

(Noval).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *