KTA Bukan Mahkota, Karya adalah Harga Diri Pers

Berita290 Dilihat

KOMPAS1.id || Martabat pers tidak pernah ditentukan oleh selembar kartu anggota. Namun ironisnya, masih banyak yang mengukur kualitas seorang jurnalis dari KTA yang digantung di leher, bukan dari karya yang dihasilkan. Cara pandang ini keliru dan harus segera diluruskan.

Menjadi insan pers bukan soal legalitas semata, melainkan soal tanggung jawab. KTA hanyalah tanda administratif—siapa pun bisa memilikinya.

banner 336x280

Tetapi tidak semua orang mampu menjalankan fungsi pers dengan integritas, keberanian, dan kejujuran.

Di situlah letak pembeda antara sekadar “mengaku wartawan” dan benar-benar menjadi jurnalis.

Martabat pers lahir dari karya. Dari berita yang akurat, dari tulisan yang berpihak pada kebenaran, dari liputan yang berani mengungkap fakta meski berisiko.

Bukan dari logo organisasi, bukan dari kartu identitas, dan bukan dari atribut yang dipamerkan. Tanpa karya yang bermutu, semua itu tidak lebih dari simbol kosong.

Di tengah derasnya arus informasi, label “wartawan” semakin mudah diklaim. Namun kepercayaan publik tidak bisa diperoleh dengan klaim, apalagi dengan membeli status.

Kepercayaan hanya lahir dari konsistensi: menyajikan fakta, menjaga keseimbangan, dan tidak tunduk pada kepentingan tertentu.

Sejarah pers tidak mencatat siapa yang paling banyak memiliki kartu anggota, tetapi siapa yang berani menulis kebenaran.

Karya jurnalistik yang tajam dan jujur akan hidup lebih lama daripada identitas apa pun.

Ia menjadi bukti nyata bahwa pers hadir untuk masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi.

Profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk menjaga akal sehat publik dan mengawal demokrasi.

Tugas itu menuntut lebih dari sekadar status—ia membutuhkan keberanian, disiplin, dan kepatuhan pada etika. Tanpa itu, pers kehilangan makna.

Sudah saatnya paradigma diubah. Berhenti membanggakan atribut, mulai membangun kualitas.

Karena pada akhirnya, yang membuat seorang jurnalis dihormati bukanlah apa yang ia miliki, tetapi apa yang ia hasilkan.

KTA bisa hilang, bisa kedaluwarsa. Tapi karya yang jujur akan tetap hidup—dan di situlah martabat pers menemukan maknanya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *