KOMPAS1.ID
SRAGEN, 10 Juli 2026 – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, melakukan kunjungan kerja khusus ke Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada Kamis (9/7/2026). Dalam agenda ini, beliau meninjau empat lokasi petilasan bersejarah peninggalan Pangeran Mangkubumi.
Kunjungan ini menjadi momen bersejarah karena merupakan kali pertama pelaksanaan agenda Muhibah Budaya Yogyakarta yang diselenggarakan di luar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pesan Penting Pelestarian Situs Sejarah
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di hadapan pemerintah daerah setempat dan pengelola situs, Sri Sultan menyampaikan pesan mendalam mengenai cara merawat warisan leluhur. Beliau menegaskan bahwa penataan maupun renovasi memang diperlukan demi menjaga nilai sejarah, namun harus dilakukan dengan cermat dan tidak memutus hubungan masyarakat dengan situs tersebut.
“Penataan memang penting, tapi jangan sampai menjauhkan situs dari warga yang selama ini hidup berdampingan dan ikut menjaganya. Kalau dipagari tembok tinggi sehingga masyarakat tidak bisa masuk, hal-hal seperti itu jangan dilakukan,” ujar Sri Sultan saat meninjau Sendang Sumberan.
Empat Lokasi Bersejarah yang Dikunjungi
Dalam kunjungan seharian tersebut, Sri Sultan meninjau empat situs penting jejak Pangeran Mangkubumi:
1. Pendopo Petilasan Mangkubumi di Desa Pandak: Tempat pertama kali disinggahi Pangeran Mangkubumi saat tiba di tanah Sukowati (kini Sragen).
2. Gua Mangkubumi di Desa Gebang, Kecamatan Masaran: Dikenal sebagai tempat persembunyian sekaligus markas gerilya Pangeran Mangkubumi saat menghindari kejaran pasukan VOC.
3. Petilasan Sentono di Desa Katelan, Kecamatan Tangen.
4. Sendang Sumberan di Desa Japoh, Kecamatan Jenar.
Di Sendang Sumberan, Sri Sultan sempat membasuh tangan dengan air dari mata air setempat. Lokasi ini memiliki keunikan berupa tujuh mata air yang jernih dan tak pernah kering, yaitu Sendang Putri, Sendang Kahuripan, dua Sendang Padusan, dua Sendang Kembar, dan Sendang Kakung.
Pemerintah Kabupaten Sragen berkomitmen mengikuti arahan Sri Sultan, sehingga nilai sejarah situs tetap terjaga dan tetap menjadi bagian kehidupan masyarakat luas.
Laporan: Mulyoko














