Kompas1.id
Sleman, 16 Juni 2026 – Suasana menjadi panas dan ricuh di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, pada Senin malam (16/6/2026). Peristiwa itu bermula saat Budiman Sudjatmiko, mantan aktivis yang pernah dipenjara pada masa Orde Baru, dihadirkan sebagai pembicara dalam sebuah forum diskusi bertema Pancasila.
Tak lama setelah acara dimulai, ratusan mahasiswa yang hadir mulai melontarkan protes keras. Situasi semakin memanas ketika sejumlah mahasiswa naik ke atas panggung sambil mengibarkan spanduk berisi tulisan tegas: “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim”.
Melihat kondisi yang tidak kondusif, panitia dan petugas keamanan segera melakukan tindakan. Budiman Sudjatmiko akhirnya dievakuasi keluar dari lokasi acara agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, kepergiannya justru menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan mendalam dari para mahasiswa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Massa terus berteriak meminta agar pembicara utama itu kembali hadir untuk berdialog secara terbuka. “Budiman, mana Budiman? Katanya mau diskusi!” teriak sejumlah mahasiswa secara bersahutan.
Upaya untuk menenangkan situasi sempat dilakukan ketika dua tokoh lain yang hadir, yaitu Nusron Wahid dan Sudaryono, turun menemui massa untuk berkomunikasi. Namun, kehadiran mereka tidak dapat menjawab keinginan mahasiswa yang tetap menuntut kehadiran Budiman Sudjatmiko.
Kekecewaan memuncak ketika rombongan pejabat dan tamu undangan akhirnya meninggalkan lokasi diskusi. Sebagian mahasiswa melontarkan kritikan tajam, menyebut mantan tahanan politik era Orde Baru itu telah berubah haluan. “Dulu Budiman pernah dipenjara, ikut aksi demonstrasi memperjuangkan perubahan, sekarang malah kabur. Dia pengkhianat! Pengecut!” teriak salah satu mahasiswa.
Peristiwa ini dengan cepat menyebar dan memicu perdebatan luas di ruang publik maupun media sosial. Sebagian pihak menilai sikap mahasiswa adalah bentuk kebebasan berekspresi dan hak untuk mengkritik konsistensi tokoh publik. Namun, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa cara penyampaiannya sudah melampaui batas etika diskusi yang sehat dan cenderung memberikan cap negatif tanpa ruang pembelaan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi yang disampaikan oleh Budiman Sudjatmiko maupun pihak manajemen UGM terkait insiden tersebut. Kejadian ini menjadi sorotan, mengingat kampus sejatinya merupakan ruang demokrasi tempat berbagai pandangan dapat disampaikan dan diperdebatkan secara santun.
MULYOKO














