Menakar Jangkar Stabilitas: Membaca Arah Kebijakan Strategis Bank Indonesia

- Penulis

Rabu, 10 Juni 2026 - 00:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOMPAS1.ID
Kebijakan Ekonomi Nasional
Jakarta, 10 Juni 2026
Bank Indonesia mengambil langkah agresif melalui Rapat Dewan Gubernur luar biasa pada 9 Juni 2026 dengan menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Penyesuaian ini juga diikuti kenaikan Fasilitas Simpanan menjadi 4,50 persen dan Fasilitas Pemberian Pinjaman menjadi 6,25 persen. Kebijakan ini disusun secara cermat untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta menahan laju inflasi tetap sesuai target nasional pada 2026 hingga 2027.

Langkah ini diambil menyikapi tekanan eksternal yang membuat Rupiah sempat tertekan hingga menyentuh angka Rp18.188–Rp18.190 per Dolar AS. Gejolak pasar keuangan global dan pelemahan mata uang negara berkembang memicu risiko inflasi impor yang dapat menurunkan daya beli masyarakat. Dengan menaikkan suku bunga, BI mengirim sinyal kuat agar aset berbasis Rupiah tetap menarik, sekaligus mendorong aliran dana asing masuk kembali ke dalam negeri.

Kebijakan ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, sektor perbankan, surat utang negara jangka pendek, dan aktivitas menabung masyarakat diperkirakan akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan marjin bunga. Namun di sisi lain, sektor yang sangat bergantung pada pinjaman seperti properti, konstruksi, otomotif, ritel, serta perusahaan dengan utang besar akan menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi. Masyarakat pun diprediksi lebih berhemat dan mengurangi belanja barang bukan kebutuhan pokok untuk sementara waktu.

Bagi pelaku usaha dan investor, kondisi ini menuntut pengelolaan keuangan yang lebih ketat, efisiensi operasional, serta pemilihan investasi yang lebih selektif. Meskipun pertumbuhan ekonomi mungkin melambat sedikit dalam jangka pendek, stabilitas nilai tukar dan inflasi yang terjaga menjadi fondasi utama bagi perkembangan ekonomi yang berkelanjutan. Langkah responsif ini dinilai perlu dilakukan sebagai benteng menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi global yang belum usai.

(Bob Hariawan, Kabiro Kota Bandung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT
Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage
Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”
Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan
Perkuat Pembangunan Desa, Pemdes Tenjolaya Gandeng Unpas
Semarak HUT TNI ke-81, TNI-Polri dan Komunitas Bersatu Gelar Touring, Karya Bakti dan Bakti Sosial di Goa Seplawan
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 01:50 WIB

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT

Sabtu, 26 September 2026 - 12:38 WIB

Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an

Sabtu, 26 September 2026 - 11:21 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage

Sabtu, 26 September 2026 - 10:05 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”

Sabtu, 26 September 2026 - 08:41 WIB

Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan

Berita Terbaru