Ketika Bumi Menghentak Manusia

- Penulis

Senin, 8 Juni 2026 - 02:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOMPAS1.ID

Senin, 8 Juni 2026
Pagi yang tenang di beranda utara Celebes seketika berubah menjadi panggung kecemasan. Getaran hebat bermagnitudo 7,7 yang menghantam Sulawesi Utara bukan sekadar angka dalam skala seismik, melainkan sebuah alarm keras yang menguji ketangguhan psikologis dan kesiapsiagaan kolektif kita di atas tanah yang dinamis.

Merujuk pada fakta lapangan hari ini, Senin (8/6/2026), pemukiman di Minahasa Utara mendadak riuh oleh kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah demi menyelamatkan diri. Di tengah situasi tersebut, terselip narasi-narasi kecil namun mendalam tentang bagaimana manusia berhadapan langsung dengan manifestasi energi bumi yang luar biasa masif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesaksian dari lapangan melukiskan suasana mencekam dengan sangat personal. Roy, seorang warga setempat, menyaksikan sebuah fenomena tak lazim di mana benda mati seakan bernyawa; sepeda motor miliknya bergerak sendiri di atas landasan yang bergoyang. Sementara itu, Grace menggambarkan sensasi guncangan tersebut dengan analogi yang subtil namun mengerikan: bagaikan berada di atas gelombang laut, terombang-ambing di atas dek kapal yang kehilangan jangkar. Ungkapan-ungkapan ini, meski sederhana, mengkristalkan rasa ketidakberdayaan manusiawi ketika pijakan paling kokoh tempat kita berdiri pun dipaksa meliuk oleh desakan tektonik.

Baca Juga:  Bina Marga Provinsi Lakukan Pemeliharaan Jalan Raya Kopo – Immanuel

Dari perspektif redaksi, peristiwa ini seyogianya tidak hanya dipandang sebagai bencana alam periodik atau sekadar komoditas berita hangat. Magnitudo 7,7 adalah angka yang sangat besar, sebuah pengingat geografis bahwa nusantara berada di atas jalinan cincin api yang aktif. Keberadaan warga yang berdiri terpaku di balik pagar rumah dengan tatapan cemas—sebagaimana terekam dalam dokumentasi visual—adalah potret riil dari rapuhnya benteng kenyamanan urban kita.

Kita dipaksa untuk kembali merenungkan sejauh mana literasi mitigasi bencana telah meresap ke dalam sanubari masyarakat. Ketika gempa melanda, kepanikan adalah musuh pertama yang harus ditaklukkan, namun edukasi tata ruang dan konstruksi tahan gempa adalah investasi jangka panjang yang mutlak diwujudkan. Redaksi memandang bahwa kesiapsiagaan tidak boleh berhenti pada tataran simulasi seremonial, melainkan harus mewujud menjadi budaya hidup.

Mari kita jadikan momentum 8 Juni 2026 ini sebagai titik balik untuk memperkuat solidaritas, mempercepat respons kemanusiaan bagi wilayah terdampak, dan yang terpenting, meningkatkan kerendahan hati kita di hadapan semesta. Bumi tidak pernah berniat menyakiti; ia hanya sedang bernapas mencari keseimbangannya, dan manusialah yang harus belajar membaca ritme serta hidup selaras dengannya.

BOB HARIAWAN
KABIRO KOTA BANDUNG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT
Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage
Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”
Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan
Perkuat Pembangunan Desa, Pemdes Tenjolaya Gandeng Unpas
Semarak HUT TNI ke-81, TNI-Polri dan Komunitas Bersatu Gelar Touring, Karya Bakti dan Bakti Sosial di Goa Seplawan
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 01:50 WIB

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT

Sabtu, 26 September 2026 - 11:21 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage

Sabtu, 26 September 2026 - 11:13 WIB

Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat

Sabtu, 26 September 2026 - 10:05 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”

Sabtu, 26 September 2026 - 08:41 WIB

Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan

Berita Terbaru