BANJIR DI NANGA NUAR: MUSIBAH YANG MELUMPUHKAN AKTIVITAS, NAMUN MENJADI “REJEKI DADAKAN” BAGI SEBAGIAN PEMUDA

- Penulis

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOMPAS1.id || Nanga Nuar, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian setelah banjir merendam akses jalan utama pada Minggu sore, 17 Mei 2026.

Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak siang membuat debit air meningkat drastis hingga meluap ke badan jalan dan kawasan permukiman warga.

Genangan air yang cukup tinggi membuat aktivitas masyarakat terganggu total. Banyak pengendara roda dua maupun roda empat terpaksa menghentikan perjalanan karena takut kendaraan mogok saat menerobos banjir.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Situasi itu membuat suasana jalan mendadak berubah menjadi penuh kepanikan, antrean kendaraan, dan kerumunan warga yang mencoba mencari jalan aman untuk melintas.

Namun di balik kondisi yang dianggap sebagai musibah oleh sebagian masyarakat, muncul fenomena lain yang cukup mencuri perhatian. Sejumlah pemuda di lokasi justru terlihat sigap membantu para pengendara yang kesulitan melewati banjir.

Ada yang membantu mengangkat motor, mendorong kendaraan mogok, hingga menuntun pengendara melewati arus air yang cukup deras.

Aksi spontan tersebut perlahan berubah menjadi peluang mencari penghasilan dadakan. Beberapa pemuda mendapatkan uang sukarela dari para pengendara yang merasa terbantu.

Tidak sedikit warga yang memberikan imbalan sebagai bentuk terima kasih karena kendaraan mereka berhasil diselamatkan dari rendaman air ataupun kerusakan mesin.

Di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, banjir justru menjadi “ladang rejeki sementara” bagi sebagian anak muda di kawasan tersebut. Dengan tenaga dan keberanian mereka membantu warga, ada yang pulang membawa uang tambahan untuk kebutuhan sehari-hari.

Fenomena ini menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat di daerah mampu bertahan dan mencari peluang bahkan di tengah situasi bencana.

Meski demikian, kondisi ini tetap menyisakan kekhawatiran besar bagi masyarakat. Warga menilai banjir yang terus terjadi bukan lagi sekadar faktor cuaca semata.

Baca Juga:  Kepala Desa PAW , Asep Komarudin Siap Lanjutan Program Pembangunan untuk Kesejahteraan Warga”

Banyak yang menduga kerusakan lingkungan menjadi penyebab utama semakin parahnya banjir di wilayah tersebut. Pembukaan lahan tanpa pengawasan, berkurangnya pepohonan, pendangkalan parit, hingga rusaknya daerah resapan air membuat air hujan tidak lagi mampu tertahan secara alami.

Dulu, kawasan sekitar masih dipenuhi hutan dan vegetasi yang mampu menyerap air dengan baik. Kini perlahan kondisi itu berubah. Ketika hujan turun dalam waktu singkat, air langsung meluber ke jalan dan permukiman warga. Akibatnya, masyarakat kecil yang menjadi korban pertama setiap kali alam menunjukkan amarahnya.

Ironisnya, bencana yang seharusnya menjadi peringatan keras terhadap pentingnya menjaga lingkungan kini mulai dianggap hal biasa.

Anak-anak muda yang membantu di lokasi bahkan terlihat sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti ini.

Sebagian warga mengatakan, hampir setiap musim hujan mereka harus siap menghadapi banjir mendadak.
Meski begitu, solidaritas masyarakat Nanga Nuar tetap terlihat kuat.

Di tengah genangan air, para pemuda saling bekerja sama membantu warga yang kesulitan. Tidak ada rasa malu untuk turun langsung ke air berlumpur demi menolong sesama.

Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa rasa kebersamaan masyarakat pedalaman masih sangat hidup.

Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait tidak hanya datang saat banjir viral di media sosial, tetapi benar-benar hadir membawa solusi nyata.

Mulai dari perbaikan drainase, normalisasi sungai, pembangunan saluran air yang layak, hingga pengawasan terhadap aktivitas perusakan lingkungan dinilai harus segera dilakukan sebelum kondisi menjadi semakin parah di masa mendatang.

Karena jika dibiarkan terus menerus, banjir bukan hanya merusak jalan dan rumah warga, tetapi perlahan juga mengubah cara hidup masyarakat.

Musibah yang seharusnya dihindari malah berubah menjadi rutinitas tahunan, bahkan menjadi sumber penghasilan dadakan bagi sebagian orang akibat keadaan yang terus berulang.

 

Reporter: DIDY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Solar Palsu Berbahan Limbah B3 Diduga Disuplai ke Industri di Jungkat, Publik Desak Aparat Bongkar Jaringan Mafia BBM Ilegal
Kodim 0412/LU Hadirkan Nilai Iman dalam Karya Bakti Satkowil Rehab Mushola An-Nur Desa Abung Jayo
“Jika Tak Mampu Tindak Gudang BBM Diduga Milik Farhan SKL, Kapolres dan Kasat Reskrim Bitung Diminta Mundur dari Jabatan”
Tinjau Jalan Singkil-Teluk Rumbia Bupati Minta Penanganan Darurat Jangan Pungut Biaya Dari Warga ‎
‎LMND Dorong Diskominfo Perkuat Perlindungan Digital di Aceh Singkil
*POLSEK MARGAASIH AMANKAN KEGIATAN NOBAR LIGA BRI SUPERLEAGUE PSM MAKASSAR VS PERSIB BANDUNG*
Ketetapan Resmi Pemerintah: Hari Raya Iduladha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Menolak Noda di Balik Euforia Kemenangan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 05:29 WIB

Solar Palsu Berbahan Limbah B3 Diduga Disuplai ke Industri di Jungkat, Publik Desak Aparat Bongkar Jaringan Mafia BBM Ilegal

Senin, 18 Mei 2026 - 04:58 WIB

Kodim 0412/LU Hadirkan Nilai Iman dalam Karya Bakti Satkowil Rehab Mushola An-Nur Desa Abung Jayo

Senin, 18 Mei 2026 - 02:51 WIB

“Jika Tak Mampu Tindak Gudang BBM Diduga Milik Farhan SKL, Kapolres dan Kasat Reskrim Bitung Diminta Mundur dari Jabatan”

Senin, 18 Mei 2026 - 01:32 WIB

Tinjau Jalan Singkil-Teluk Rumbia Bupati Minta Penanganan Darurat Jangan Pungut Biaya Dari Warga ‎

Senin, 18 Mei 2026 - 01:03 WIB

‎LMND Dorong Diskominfo Perkuat Perlindungan Digital di Aceh Singkil

Berita Terbaru