Halmahera Utara,Maluku Utara.Kompas1.id
Meletusnya Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali menjadi perhatian berbagai pihak, khususnya para pelaku wisata alam terbuka. Peristiwa erupsi yang kembali menyebabkan pendaki dan wisatawan terjebak di kawasan gunung tersebut dinilai menjadi pengingat penting bahwa aktivitas pendakian gunung tidak bisa dilakukan secara sembarangan tanpa memahami informasi kebencanaan dan kondisi alam terkini.
Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi menegaskan bahwa setiap wisatawan maupun pendaki harus memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai status gunung api sebelum melakukan aktivitas pendakian. Fenomena wisata alam yang semakin populer di kalangan masyarakat, terutama generasi muda dan konten kreator, harus diimbangi dengan edukasi keselamatan dan literasi informasi kebencanaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Harian Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi, Andi Sukandi, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia menilai masih banyak wisatawan yang naik gunung hanya mengikuti tren tanpa memahami risiko yang ada di kawasan gunung api aktif.
“Terulang kembali pendaki terjebak saat erupsi Gunung Dukono. Ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak bahwa wisata alam, khususnya pendakian gunung, membutuhkan kesiapan, pengetahuan, dan kepatuhan terhadap informasi resmi salah satunya Mitigasi Bencana Gunung Api. Jangan asal naik gunung hanya karena ingin berwisata atau membuat konten,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa wisatawan harus aktif memantau informasi dari instansi resmi seperti PVMBG, BPBD, maupun otoritas setempat terkait status aktivitas gunung sebelum melakukan perjalanan. Selain itu, penggunaan jasa pemandu wisata yang kompeten dan memahami mitigasi bencana dinilai sangat penting untuk meminimalisir risiko kecelakaan maupun kondisi darurat di lapangan.
Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi mengajak seluruh masyarakat untuk membangun budaya wisata alam yang aman, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keselamatan bersama.
Menurutnya, edukasi wisata alam tidak hanya berbicara soal menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami risiko, etika, dan kesiapsiagaan saat berada di kawasan rawan bencana.
@A.Suka_2026














