Dua Generasi, Satu Warisan: Dayak Suang En Silat Tetap Tegak di Tengah Zaman

- Penulis

Senin, 30 Maret 2026 - 01:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOMPAS1.id || Di dalam balai adat yang memancarkan aura sejarah, dua sosok dari Suku Dayak Suang En Silat duduk dengan penuh wibawa. Potret ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan bukti nyata bahwa tradisi leluhur di Kabupaten Kapuas Hulu terus bernyawa, terjaga, dan terwariskan.

Di sebelah kiri, tampak Didy atau akrab disapa Baky. Generasi muda ini tampil gagah mengenakan busana adat lengkap—dihiasi manik-manik, taring, dan hiasan kepala yang memancarkan keberanian. Tatapan dan sikap tegapnya adalah representasi nyata: semangat muda yang tak hanya bangga, tapi juga berkomitmen menjaga identitas asli nenek moyang.

Di sisinya, duduk sosok yang dihormati, Ai Bedelah yang lebih dikenal sebagai Ai Jagut. Dengan janggut putih yang memanjang dan wajah yang memancarkan kebijaksanaan, beliau adalah penjaga nilai-nilai luhur. Hiasan telinga besar yang dikenakannya bukan sekadar ornamen, melainkan simbol perjalanan panjang dan keteguhan dalam memelihara adat istiadat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertemuan Baky dan Ai Jagut dalam satu bingkai adalah dialog abadi antara masa lalu dan masa depan. Ai Jagut adalah akar yang kokoh, penjaga kearifan yang tak tergoyahkan. Sementara Baky adalah tunas yang tumbuh, harapan yang memastikan warisan ini tidak akan pernah pudar ditelan zaman.

Baca Juga:  Hujan Deras Mengguyur Desa, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem

Latar belakang ukiran kayu khas rumah adat semakin memperkuat suasana sakral. Setiap goresan kayu merefleksikan filosofi hidup masyarakat Dayak yang selaras dengan alam dan menghormati leluhur.

Lewat potret ini, pesan yang tersampaikan sangat dalam: budaya adalah jati diri, bukan sekadar hiasan. Di tengah gempuran modernisasi, semangat anak muda seperti Baky menjadi kunci kelangsungan hidup tradisi. Namun, peran sesepuh seperti Ai Jagut tetaplah tak ternilai—sebagai kompas yang membimbing generasi baru agar tak kehilangan arah.

Ini bukan sekadar kisah dua orang, melainkan perjalanan sebuah peradaban. Sebuah bukti dari pedalaman Kapuas Hulu: selama ada yang menghargai dan merawat, warisan leluhur akan terus hidup dan menjadi kebanggaan yang abadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pembatasan Aliran Listrik di Kalimantan Barat Akibat Gangguan PLTU
Ibu Rumah Tangga Meninggal dalam Kebakaran Rumah di Palabuhanratu
Diduga Oknum LSM atau Wartawan Minta Uang Rp3 Juta, Masyarakat Desa Guradog Masih Menanti Kejelasan
‎Siang Berubah Kelam: Kebakaran Melanda Kawasan Rimo, Sejumlah Rumah Hangus Terbakar
Jembatan Perintis Garuda Hampir Rampung, Gotong Royong TNI dan Warga Wujudkan Akses yang Lama Dinantikan
*BUPATI KENDAL HADIRI KHAUL PANGERAN SAMBONG & MERTI DESA SAMBONGSARI DI HUTAN LINDUNG MAHONI*
‎Publik Desak Tim Pansus DPRK Aceh Singkil Transparan, Kunjungan ke Sejumlah PT Harus Berbuah Hasil
Penambalan Jalan Desa Sendiri Oleh Warga, Bantuan Desa Belum Tercapai
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 00:17 WIB

Pembatasan Aliran Listrik di Kalimantan Barat Akibat Gangguan PLTU

Minggu, 5 Juli 2026 - 00:13 WIB

Ibu Rumah Tangga Meninggal dalam Kebakaran Rumah di Palabuhanratu

Sabtu, 4 Juli 2026 - 13:31 WIB

‎Siang Berubah Kelam: Kebakaran Melanda Kawasan Rimo, Sejumlah Rumah Hangus Terbakar

Sabtu, 4 Juli 2026 - 13:13 WIB

Jembatan Perintis Garuda Hampir Rampung, Gotong Royong TNI dan Warga Wujudkan Akses yang Lama Dinantikan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:11 WIB

*BUPATI KENDAL HADIRI KHAUL PANGERAN SAMBONG & MERTI DESA SAMBONGSARI DI HUTAN LINDUNG MAHONI*

Berita Terbaru