
Kompas1. Id, Sumsel
Hak Atas Pangan Harus Dibela, Tetapi Keyakinan Agama Juga Wajib Dihormati
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
JAKARTA — Pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, yang mengaitkan kebutuhan makan dengan perumpamaan bahwa “malaikat pun makan”, menjadi perhatian publik dan dinilai perlu mendapatkan klarifikasi.
Aktivis sosial Budi Rizkiyanto menegaskan bahwa kritik terhadap pernyataan tersebut bukan berarti menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) ataupun menolak hak rakyat untuk memperoleh makanan yang layak dan bergizi.
Menurutnya, yang dipersoalkan adalah ketepatan ketika pejabat negara membawa persoalan teologi ke dalam narasi kebijakan publik.
«“Saya mendukung setiap kebijakan negara yang bertujuan memenuhi kebutuhan pangan dan gizi rakyat. Tetapi saya meminta agar pernyataan ‘malaikat juga makan’ diklarifikasi. Apakah kalimat tersebut sekadar metafora, ataukah dimaksudkan sebagai pernyataan literal mengenai keyakinan agama? Karena jika sudah menyangkut malaikat dan ajaran agama, maka ketepatan kata menjadi sangat penting,” ujar Budi Rizkiyanto.»
DALAM PERSPEKTIF ISLAM, MALAIKAT TIDAK MENJAMAH MAKANAN NABI IBRAHIM
Budi Rizkiyanto menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam terdapat kisah Nabi Ibrahim AS yang menerima tamu dan kemudian menyediakan makanan untuk mereka.
Dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 24–27, Nabi Ibrahim disebut memuliakan para tamunya dan menghidangkan makanan.
Namun dalam Surah Hud ayat 70, ketika Nabi Ibrahim melihat tangan para tamunya tidak menjamah makanan tersebut, beliau merasa khawatir.
Para tamu tersebut kemudian diketahui sebagai malaikat.
Karena itu, menurut Budi, apabila kalimat “malaikat pun makan” dimaksudkan secara literal dalam perspektif ajaran Islam, maka pernyataan tersebut patut dikaji kembali dan dijelaskan kepada publik.
«“Kami tidak ingin terburu-buru memberikan cap atau vonis terhadap seseorang. Tetapi kami berhak bertanya dan meminta klarifikasi. Dalam Al-Qur’an terdapat kisah yang menunjukkan bahwa malaikat tidak menjamah makanan yang dihidangkan Nabi Ibrahim. Maka ketika pejabat negara mengatakan malaikat juga makan, tentu publik berhak bertanya: dalam konteks keyakinan atau ajaranmanaGgG pernyataan itu disampaikan?” tegas Budi.»
KRITIK BUKAN SERANGAN, KLARIFIKASI BUKAN PERMUSUHAN
Budi Rizkiyanto meminta agar masyarakat tidak menyalahartikan kritik tersebut sebagai serangan terhadap pribadi Natalius Pigai.
Menurutnya, pejabat negara tetap harus diberikan ruang untuk menjelaskan maksud pernyataannya.
Namun di sisi lain, masyarakat juga tidak boleh kehilangan hak untuk mengoreksi ucapan pejabat ketika ucapan tersebut menyentuh wilayah keyakinan agama.
«“Pejabat adalah manusia dan manusia bisa keliru dalam memilih kata. Karena itu, jalan yang paling elegan bukan saling menyerang, tetapi memberikan klarifikasi. Jika memang itu hanya perumpamaan, katakan kepada publikv bahwa itu adalah metafora. Tetapi jangan biarkan masyarakat dibiarkan menafsirkan sendiri sebuah pernyataan yang menyangkut teologi,” ujar Budi.»
MBG TIDAK MEMERLUKAN PEMBENARAN TEOLOGIS YANG MENIMBULKAN PERDEBATAN
Menurut Budi, program Makan Bergizi Gratis memiliki dasar yang cukup kuat untuk dipertahankan tanpa harus menggunakan perdebatan mengenai malaikat.
Anak-anak membutuhkan gizi.
Rakyat membutuhkan pangan.
Negara memiliki kewajiban melindungi kehidupan dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
«“Kalau tujuannya menjelaskan bahwa makan adalah kebutuhan manusia, sebenarnya tidak perlu membawa malaikat ke dalam argumentasi tersebut. Cukup katakan bahwa manusia membutuhkan makanan, anak-anak membutuhkan gizi, dan negara memiliki tanggung jawab memastikan rakyat hidup layak. Itu jauh lebih kuat, universal, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman keagamaan,” kata Budi.»
Budi menegaskan bahwa MBG harus diuji berdasarkan hasil dan pelaksanaannya, termasuk kualitas makanan, keamanan pangan, pemerataan penerima manfaat, transparansi anggaran, serta pengawasan terhadap potensi penyimpangan.
«“Program yang baik harus dijaga agar tetap baik. Jangan sampai tujuan mulianya justru terganggu oleh pernyataan-pernyataan yang tidak diperlukan dan akhirnya menimbulkan kontroversi,” ujarnya.»
DALAM TRADISI AGAMA LAIN, PEMAHAMANy MENGENAI MALAIKAT JUGA MEMILIKI KONTEKS TEOLOGIS
Budi Rizkiyanto juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki masyarakat dengan agama dan keyakinan yang beragam.
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, pembahasan mengenai malaikat juga terdapat dalam kitab-kitab suci dan memiliki konteks serta penafsiran teologis masing-masing.
Karena itu, menurut Budi, tidak tepat apabila persoalan malaikat disederhanakan hanya menjadi retorika umum untuk kepentingan narasi kebijakan.
«“Indonesia bukan negara dengan satu pemahaman keagamaan. Karena itu, pejabat negara harus memahami bahwa ketika menyebut malaikat, Tuhan, kitab suci, atau ajaran agama, setiap kata dapat memiliki makna yang sensitif bagi umat beragama. Kebebasan berbicara harus tetap disertai tanggung jawab,” tegasnya.»
BUDI RIZKIYANTO MINTA KLARIFIKASI TERBUKA
Atas dasar itu, Budi Rizkiyanto secara terbuka meminta Natalius Pigai memberikan penjelasan mengenai maksud sebenarnya dari pernyataan tersebut.
Klarifikasi diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan perdebatan berkepanjangan di tengah masyarakat.
«“Saya meminta klarifikasi secarag terbuka, bukan untuk mempermalukan siapa pun, tetapi untuk memberikan kepastian kepada publik. Jika itu metafora, jelaskan sebagai metafora. Jika ada maksud lain, sampaikan kepada masyarakat. Karena ketika pejabat berbicara di ruang publik, masyarakat juga memiliki hak untuk memahami secara benar apa yang sebenarnya dimaksud,” pungkas Budi Rizkiyanto.»
Budi menegaskan kembali bahwa permintaan klarifikasi tersebut adalah bagian dari kritik yang sehat dalam negara demokrasi.
Membela hak rakyat untuk mendapatkan makanan bergizi tidak berarti harus membenarkan setiap kalimat pejabat.
Mengkritik pernyataan pejabat juga tidak berarti menolak program pemerintah.
Yang dibutuhkan adalah ketepatan, tanggung jawab, dan keberanian untuk memberikan penjelasan apabila sebuah pernyataan menimbulkan pertanyaan publik.
PENUTUP
Hak atas pangan harus dijaga.
Program MBG dapat dikawal dan dievaluasi.
Konstitusi harus dihormati.
Agama harus dimuliakan.
Dan pejabat negara harus berhati-hati ketika membawa istilah teologis ke dalam pernyataan publik.
Budi Rizkiyanto menegaskan bahwa dirinya tidak sedang meminta masyarakat untuk membenci atau menghakimi Natalius Pigai.
Ia hanya meminta satu hal yang sederhana:
«“Ketika sebuah pernyataan menyangkut keyakinan masyarakat dan menimbulkan pertanyaan teologis, maka klarifikasi adalah jalan yang paling bijaksana. Tidak ada yang kehilangan kehormatan karena memberikan penjelasan. Justru pejabat akan semakin dihormati ketika berani meluruskan maksud dari perkataannya.”»
Karena membela hak rakyat untuk makan tidak memerlukan kontroversi teologis.
Cukup tegaskan bahwa rakyat berhak hidup, rakyat membutuhkan pangan, dan negara wajib hadir untuk memastikan hak tersebut terpenuhi.
BUDI RIZKIYANTO
Reporter : Reno. Sli












