Menilik Sisi Gelap Ekonomi Nasional: “Indonesian in the Deep” dan Tantangan Ekonomi Bawah Tanah

- Penulis

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas1.id
Bandung, 17 Juni 2026 – Realitas perekonomian suatu bangsa sering kali tidak sepenuhnya tergambar dalam angka statistik resmi yang dirilis pemerintah. Di balik catatan pertumbuhan makro yang kerap dipaparkan, terdapat roda perekonomian yang berjalan senyap di wilayah abu-abu: sektor ekonomi bawah tanah atau underground economy.

Fenomena inilah yang menjadi latar belakang digelarnya Forum Grup Diskusi (FGD) bertajuk “Indonesian in the Deep (Economic Underground)”, yang diinisiasi oleh Brotherhood for Indonesian Culture (BFIC). Kegiatan berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026 di De Parleys – Tung De Blang, kawasan Cihampelas, Bandung. Forum ini bertujuan mengupas, memetakan, serta merumuskan pendekatan budaya dan struktural dalam menyikapi aktivitas ekonomi yang selama ini luput dari pengawasan dan pencatatan formal negara.

Dua Sisi Mata Uang Ekonomi Bawah Tanah

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para pembicara sepakat bahwa keberadaan sektor ini memiliki dua dampak yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ekonomi bawah tanah berperan sebagai jaring pengaman sosial. Ia menjadi tumpuan hidup bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku usaha kecil yang sulit mengakses lapangan kerja formal, sehingga tetap mampu menjaga sirkulasi keuangan dan bertahan hidup.

Namun dari sisi tata kelola negara, aktivitas ini menimbulkan kerugian signifikan. Hilangnya potensi penerimaan negara akibat penggelapan pajak menjadi konsekuensi utama yang dapat memperlambat laju pembangunan nasional. Oleh karena itu, penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan hukum yang kaku, melainkan membutuhkan analisis yang memadukan aspek ekonomi, sosial, dan budaya.

Baca Juga:  PATROLI PRESISI DAN KARYD ANTISIPASI C3 KEJAHATAN JALANAN POLSEK MARGAAAIH POLRES CIMAHI

Diskusi Menghadirkan Perspektif Baru

Diskusi berlangsung secara tajam namun tetap kondusif, menghadirkan narasumber kompeten seperti Yudi Sudarmadi, TB. Raditya Indrajaya, dan Soni Sonjaya (Soni Bebek). Acara dipandu oleh Bonie Nugraha selaku perwakilan BFIC. Dalam sesi pembahasan, dikupas bagaimana dinamika kehidupan di kota besar seperti Bandung membentuk ekosistem ekonomi informal yang kuat, mandiri, namun terpisah dari aturan perundang-undangan yang berlaku.

BFIC menekankan bahwa penyelesaian persoalan ini tidak bisa dilakukan dengan cara represif atau memaksakan peraturan secara sepihak. Diperlukan pendekatan yang manusiawi dan berbasis kearifan budaya agar para pelaku ekonomi bawah tanah dapat secara bertahap masuk ke dalam sistem ekonomi formal tanpa menghilangkan kemampuan usahanya untuk tetap bertahan dan berkembang.

Forum ini diharapkan melahirkan gagasan yang tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga dapat dijadikan rekomendasi nyata bagi para pembuat kebijakan. Mengangkat apa yang tersembunyi ke permukaan dinilai sebagai langkah awal menuju terciptanya sistem ekonomi yang lebih transparan, merata, dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kabiro kota Bandung
Bob Hariawan

#BFIC #EconomicUnderground #KebijakanEkonomi #PembangunanBerkeadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pangbes Manguni Muda Indonesia Apresiasi Kinerja Satresnarkoba Polres Bitung: Di Bawah Komando Kasat IPTU Jefri Duabai, Perang Terhadap Narkoba Nyata.!
FAMILY GATHERING PAGUYUBAN SCOOTER BANDUNG (PSB) SIAP GEBER GARUT 17-18 OKTOBER 2026 – USUNG TEMA SAREUNDEUK SAIGEL SABOBOT SAPIHANEAN.
Viral ! Lansia 73 Tahun di KBB Ditolak Berobat di RSUD Cikalongwetan Gara-Gara Tak Punya JKN Mobile.
Masyarakat Boltim Titip Harapan Ke Kapolri Baru: Polisi Bersama Masyarakat Rasakan Kesulitan Kami
Dari Boltim Untuk Istana: Selamat Datang Kapolri Jendral Suyudi, 25 WPR Menanti Kepastian
Penertiban Tanpa Solusi Dinilai Bom Waktu, Aktivis Sulut Ingatkan Potensi Gejolak Sosial di Boltim
Hari Batik Nasional 2026, H. Dadan Sobara Mari Tumbuhkan Cinta Budaya Bangsa Melalui Batik.
Pengaduan Solar Subsidi di SPBU Langowan Diterima BPH Migas “SOROTAN PUBLIK”
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:45 WIB

Pangbes Manguni Muda Indonesia Apresiasi Kinerja Satresnarkoba Polres Bitung: Di Bawah Komando Kasat IPTU Jefri Duabai, Perang Terhadap Narkoba Nyata.!

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:56 WIB

FAMILY GATHERING PAGUYUBAN SCOOTER BANDUNG (PSB) SIAP GEBER GARUT 17-18 OKTOBER 2026 – USUNG TEMA SAREUNDEUK SAIGEL SABOBOT SAPIHANEAN.

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 06:33 WIB

Viral ! Lansia 73 Tahun di KBB Ditolak Berobat di RSUD Cikalongwetan Gara-Gara Tak Punya JKN Mobile.

Minggu, 4 Oktober 2026 - 13:07 WIB

Masyarakat Boltim Titip Harapan Ke Kapolri Baru: Polisi Bersama Masyarakat Rasakan Kesulitan Kami

Minggu, 4 Oktober 2026 - 12:53 WIB

Dari Boltim Untuk Istana: Selamat Datang Kapolri Jendral Suyudi, 25 WPR Menanti Kepastian

Berita Terbaru