Ketika Empati Tergerus Komersialisasi di Gerbang Rumah Sakit

Berita, Daerah460 Dilihat

Kompas1.id
​TANGERANG 15 April 2026– “Saya sudah mengeluarkan biaya ratusan juta untuk pengobatan di rumah sakit ini, namun mengapa untuk sekadar akses parkir pun masih harus dibebani biaya valet yang mencekik?”

​Kalimat bernada getir di atas menjadi cerminan dari keresahan yang dirasakan banyak keluarga pasien saat ini. Ironi di dunia pelayanan kesehatan kita semakin nyata ketika efisiensi dan komersialisasi lahan parkir mulai menepikan sisi kemanusiaan.

banner 336x280

​Keadilan bagi Pasien: Sebuah Ironi Tarif
​Praktik di lapangan menunjukkan adanya tekanan psikologis yang tidak perlu bagi pengunjung. Layanan valet parking yang dipatok dengan tarif flat (seperti Rp25.000) belum termasuk biaya parkir per jam, terasa sangat tidak manusiawi. Terlebih ketika akses menuju lobi utama dipersulit, seolah-olah memaksa pengunjung untuk merogoh kocek lebih dalam di saat mereka sedang berjuang demi kesembuhan orang tercinta.

​Ada beberapa poin krusial yang perlu menjadi perhatian manajemen rumah sakit dan pengelola parkir:
​Etika Pelayanan: Sangat tidak patut jika keluarga pasien yang sedang dalam kondisi panik atau lelah secara fisik harus menghadapi arogansi oknum petugas di lapangan. Teriakan atau sikap tidak ramah dari petugas valet di area RS Swasta Ternama di daerah karawaci adalah cerminan buruknya koordinasi antara bisnis dan empati.

​Logika Keadilan: Pasien yang sudah memberikan kontribusi finansial besar bagi rumah sakit melalui biaya medis semestinya mendapatkan kemudahan fasilitas, bukan justru dijadikan objek “pungutan” tambahan yang tidak masuk akal.
​Diskriminasi Akses: Mempersulit akses lobi demi memprioritaskan valet menciptakan jurang pemisah. Seharusnya, kemudahan akses adalah prioritas utama bagi setiap nyawa yang datang mencari pertolongan, tanpa memandang tebalnya dompet.

​Menuntut Integritas Institusi Kesehatan
​Rumah sakit bukan sekadar gedung perkantoran atau mal; ia adalah institusi kemanusiaan. Sangatlah keliru jika kenyamanan parkir hanya diberikan kepada mereka yang bersedia membayar mahal, sementara mereka yang sedang kesulitan dipaksa memutar otak hanya untuk mendapatkan tempat berhenti.
​Kita mendesak manajemen rumah sakit, khususnya di kawasan Karawaci, untuk segera mengevaluasi kebijakan parkir ini. Jangan biarkan tarif valet yang “mencekik” dan sikap petugas yang kasar menjadi noda hitam bagi reputasi medis yang sudah dibangun. Pelayanan kesehatan seharusnya dimulai dari gerbang depan, bukan hanya di ruang operasi. BOB HARIAWAN. KABIRO KOTA BANDUNG

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *