BANDUNG, KOMPAS1.ID
– Suasana sakral menyelimuti Padepokan Parukuyan pada Minggu siang. Di bawah kepemimpinan Yon Suparman, atau yang lebih akrab disapa Bah Yon, ritual tahunan “Ruwat Jagad Tolak Bala” digelar dengan megah. Acara ini bukan sekadar ritual adat, melainkan menjadi panggung pertemuan berbagai elemen budaya Nusantara yang menyatu dalam doa dan harmoni. 12/04/2026
Harmoni dalam Keberagaman
Pemandangan di lokasi menunjukkan betapa kayanya identitas bangsa Indonesia. Tak hanya dihadiri oleh masyarakat lokal dengan pakaian adat Sunda yang khas, acara ini juga diramaikan oleh perwakilan budaya dari berbagai daerah. Terlihat tokoh-tokoh adat dengan hiasan kepala bulu burung khas suku Dayak, hingga praktisi bela diri yang menampilkan kemahiran dalam seni pencak silat.
Kehadiran tamu mancanegara yang mengenakan batik dan udeng juga menjadi sorotan, membuktikan bahwa filosofi Ruwat Jagad—yang berarti merawat alam semesta—memiliki resonansi universal yang melintasi batas negara.
Ritual dan Pertunjukan Seni
Acara dibuka dengan rangkaian ritual doa yang dipimpin langsung oleh Bah Yon. Suasana semakin hidup dengan penampilan berbagai kesenian dari berbagai daerah .
Pesan Kedamaian dari Bah Yon
Dalam sambutannya, Bah Yon menekankan bahwa esensi dari Tolak Bala adalah membersihkan diri dan lingkungan dari energi negatif. “Kehadiran berbagai budaya di sini adalah kekuatan. Kita merawat jagad ini bersama-sama, tanpa memandang perbedaan, agar keselamatan senantiasa menyertai kita semua,” pungkasnya.
Acara ditutup dengan ramah tamah dan sesi foto bersama yang memperlihatkan kehangatan antar tokoh lintas budaya. Padepokan Parukuyan sekali lagi berhasil menjadi titik temu bagi mereka yang mencintai tradisi dan merindukan kedamaian dunia. Bob Hariawan. Kabiro kota Bandung















