​Ruwat Jagad Tolak Bala: Simfoni Keragaman Budaya di Padepokan Parukuyan

Berita, Budaya490 Dilihat

BANDUNG, KOMPAS1.ID
– Suasana sakral menyelimuti Padepokan Parukuyan pada Minggu siang. Di bawah kepemimpinan Yon Suparman, atau yang lebih akrab disapa Bah Yon, ritual tahunan “Ruwat Jagad Tolak Bala” digelar dengan megah. Acara ini bukan sekadar ritual adat, melainkan menjadi panggung pertemuan berbagai elemen budaya Nusantara yang menyatu dalam doa dan harmoni. 12/04/2026

​Harmoni dalam Keberagaman
​Pemandangan di lokasi menunjukkan betapa kayanya identitas bangsa Indonesia. Tak hanya dihadiri oleh masyarakat lokal dengan pakaian adat Sunda yang khas, acara ini juga diramaikan oleh perwakilan budaya dari berbagai daerah. Terlihat tokoh-tokoh adat dengan hiasan kepala bulu burung khas suku Dayak, hingga praktisi bela diri yang menampilkan kemahiran dalam seni pencak silat.

banner 336x280

​Kehadiran tamu mancanegara yang mengenakan batik dan udeng juga menjadi sorotan, membuktikan bahwa filosofi Ruwat Jagad—yang berarti merawat alam semesta—memiliki resonansi universal yang melintasi batas negara.
​Ritual dan Pertunjukan Seni
​Acara dibuka dengan rangkaian ritual doa yang dipimpin langsung oleh Bah Yon. Suasana semakin hidup dengan penampilan berbagai kesenian dari berbagai daerah .

​Pesan Kedamaian dari Bah Yon
​Dalam sambutannya, Bah Yon menekankan bahwa esensi dari Tolak Bala adalah membersihkan diri dan lingkungan dari energi negatif. “Kehadiran berbagai budaya di sini adalah kekuatan. Kita merawat jagad ini bersama-sama, tanpa memandang perbedaan, agar keselamatan senantiasa menyertai kita semua,” pungkasnya.
​Acara ditutup dengan ramah tamah dan sesi foto bersama yang memperlihatkan kehangatan antar tokoh lintas budaya. Padepokan Parukuyan sekali lagi berhasil menjadi titik temu bagi mereka yang mencintai tradisi dan merindukan kedamaian dunia. Bob Hariawan. Kabiro kota Bandung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *