‎Hubungan Retak? Bupati Oyon Tinggalkan Hamzah Sulaiman.

- Penulis

Minggu, 8 Maret 2026 - 00:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Singkil Kompas1.id
‎Oleh: Surya Padli ketua Eksekutif kabupaten Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (EK LMND) Aceh Singkil

‎Dinamika kekuasaan dalam pemerintahan daerah sering kali tidak sesederhana seperti yang terlihat di permukaan.

‎Di banyak kasus, pasangan kepala daerah yang awalnya tampil kompak saat kontestasi politik justru mengalami friksi setelah kekuasaan benar-benar berada di tangan mereka.

‎Fenomena ini juga mulai menjadi perbincangan publik di Kabupaten Aceh Singkil terkait hubungan antara Bupati Safriadi Oyon dan Wakil Bupati Hamzah Sulaiman.

‎Pertanyaan yang muncul di ruang publik adalah: apakah hubungan keduanya mulai retak, ataukah hanya bagian dari dinamika normal dalam pemerintahan daerah?

‎Isu tersebut tidak muncul dari ruang kosong. Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai kritik terhadap kinerja pemerintahan daerah mulai bermunculan.

‎Bahkan, sejumlah kelompok masyarakat menilai bahwa satu tahun kepemimpinan pasangan ini belum menunjukkan kemajuan signifikan.

‎Kritik itu mencakup keterlambatan pengesahan anggaran daerah serta kebijakan yang dinilai tidak menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Kondisi ini memunculkan persepsi publik tentang adanya masalah dalam koordinasi kepemimpinan daerah.

‎Namun, untuk memahami fenomena ini secara lebih mendalam, perlu digunakan perspektif teori politik, Setidaknya ada tiga pendekatan teoritis yang dapat menjelaskan kemungkinan terjadinya ketegangan dalam hubungan antara bupati dan wakil bupati:

‎teori koalisi kekuasaan, teori principal–agent dalam pemerintahan, dan teori konflik elit.

‎Koalisi Politik yang Rentan Retak

‎Dalam teori koalisi kekuasaan, pasangan kepala daerah pada dasarnya merupakan hasil kompromi politik antara berbagai kelompok kepentingan.

‎Mereka sering kali berasal dari jaringan politik yang berbeda tetapi dipersatukan oleh kepentingan elektoral untuk memenangkan pemilihan. Setelah kemenangan diraih, kesamaan tujuan tersebut perlahan berkurang karena masing-masing pihak mulai mengejar kepentingan politiknya sendiri.

‎Dalam konteks ini, hubungan antara Safriadi Oyon dan Hamzah Sulaiman dapat dilihat sebagai bentuk koalisi elektoral yang diuji ketika memasuki tahap pemerintahan.

‎Ketika distribusi kekuasaan, pengaruh birokrasi, atau akses terhadap sumber daya politik dianggap tidak seimbang, maka potensi konflik pun meningkat.

‎Situasi seperti ini bukanlah fenomena baru dalam politik lokal Indonesia. Banyak pasangan kepala daerah yang awalnya solid saat kampanye tetapi kemudian mengalami ketegangan setelah pemerintahan berjalan.

‎Hal ini terjadi karena sistem pemerintahan daerah memberi kewenangan yang lebih besar kepada kepala daerah dibanding wakilnya, sehingga sering muncul ketimpangan peran.


‎Perspektif Principal–Agent dalam Pemerintahan

‎Teori principal–agent juga relevan untuk membaca dinamika ini. Dalam teori ini, kepala daerah (bupati) bertindak sebagai “principal” yang memiliki otoritas utama dalam pengambilan keputusan, sedangkan wakil kepala daerah sering diposisikan sebagai “agent” yang menjalankan mandat tertentu.

‎Masalah muncul ketika peran wakil kepala daerah tidak jelas atau terlalu terbatas. Ketika wakil merasa tidak memiliki ruang politik yang cukup untuk berkontribusi, ketegangan hubungan dapat berkembang. Dalam banyak kasus di Indonesia, wakil kepala daerah bahkan menjadi oposisi internal terhadap bupati.

‎Jika publik mulai melihat jarak politik antara Safriadi Oyon dan Hamzah Sulaiman, maka hal tersebut bisa jadi merupakan refleksi dari persoalan struktural dalam sistem pemerintahan daerah, bukan semata konflik personal.

‎Konflik Elit dalam Perspektif Politik Lokal

‎Pendekatan ketiga adalah teori konflik elit lokal yang dikemukakan oleh para ilmuwan politik seperti Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca. Dalam teori ini, politik dipandang sebagai arena kompetisi antar elit untuk mempertahankan atau memperluas pengaruh.

‎Di tingkat daerah, elit politik tidak hanya terdiri dari kepala daerah dan wakilnya, tetapi juga mencakup partai politik, birokrat, tokoh masyarakat, dan jaringan ekonomi lokal. Ketika keseimbangan kekuasaan di antara kelompok elit ini berubah, maka hubungan antar pemimpin daerah pun dapat ikut terpengaruh.

‎Sebagai contoh, tekanan politik dari parlemen daerah atau kelompok masyarakat dapat memicu ketegangan internal dalam pemerintahan.

‎Bahkan terdapat penggunaan hak interpelasi oleh legislatif terhadap pemerintah daerah, yang menunjukkan adanya dinamika politik yang cukup serius di tingkat lokal.

‎Dalam situasi seperti ini, kepala daerah sering mengambil langkah strategis untuk mempertahankan stabilitas kekuasaan. Namun strategi tersebut tidak selalu sejalan dengan kepentingan wakilnya, sehingga potensi perpecahan semakin terbuka.

‎Politik Persepsi dan Opini Publik

‎Hal lain yang tidak kalah penting adalah politik persepsi. Dalam era media sosial dan keterbukaan informasi, persepsi publik sering kali lebih cepat terbentuk dibanding fakta yang sebenarnya.

‎Ketika masyarakat melihat adanya jarak komunikasi antara bupati dan wakil bupati, atau ketika muncul kritik terhadap kinerja pemerintahan, maka narasi tentang “hubungan retak” mudah berkembang. Narasi ini kemudian diperkuat oleh diskursus politik di masyarakat, bahkan sebelum ada pernyataan resmi dari kedua pihak.

‎Dalam politik modern, persepsi publik memiliki kekuatan besar karena dapat mempengaruhi legitimasi pemerintahan. Jika persepsi konflik terus berkembang, maka hal tersebut dapat mengganggu stabilitas politik lokal.

‎Antara Konflik Politik dan Dinamika Kepemimpinan

‎Meski demikian, penting untuk melihat fenomena ini secara objektif. Tidak semua perbedaan pandangan antara kepala daerah dan wakilnya berarti konflik terbuka.

‎Dalam banyak kasus, perbedaan strategi atau pendekatan kebijakan justru merupakan bagian dari dinamika kepemimpinan yang sehat.

‎Yang menjadi pertanyaan penting bukan sekadar apakah hubungan mereka retak, tetapi bagaimana dampaknya terhadap pemerintahan dan pelayanan publik.

‎Jika perbedaan politik masih berada dalam batas profesional, maka hal tersebut tidak akan menjadi masalah besar. Namun jika konflik berkembang menjadi pertarungan kekuasaan yang terbuka, maka masyarakatlah yang paling dirugikan.

‎Isu mengenai kemungkinan retaknya hubungan antara Safriadi Oyon dan Hamzah Sulaiman mencerminkan kompleksitas politik lokal di Aceh Singkil. Melalui perspektif teori koalisi politik, principal–agent, dan konflik elit, dinamika tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari proses normal dalam perebutan dan pengelolaan kekuasaan.

‎Namun pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli pada konflik elit jika tidak berdampak pada kehidupan mereka. Yang diharapkan publik adalah pemerintahan yang efektif, transparan, dan mampu menghadirkan kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat.

‎Jika pasangan pemimpin daerah mampu menjaga komunikasi politik dan mengelola perbedaan secara dewasa, maka isu “hubungan retak” hanya akan menjadi spekulasi politik semata.

‎Tetapi jika konflik terus berkembang tanpa penyelesaian, maka bukan tidak mungkin hubungan politik di puncak pemerintahan daerah benar-benar akan memasuki fase perpecahan.

‎Reporter Sabri

Baca Juga:  Putra asli Aceh singkil Desak APH Bongkar Dugaan Mark Up Logistik Pendopo Bupati dan SPPD Fiktif Kabag Umum Setdakab Aceh Singkil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Merah Putih Serentak Berkibar Pemuda Desa Blok VI Baru Sulap Wajah Aceh Singkil Sambut HUT RI ke-81
Hadirnya Jembatan Dua Penghubung Bukti nyata Kepedulian Presiden Prabowo dan Pengabdian TNI untuk Rakyat
MUBES HIPMASIL Ke-X Sukses Digelar Amsyardin Maulana Putra dan Ali Kusuma Terpilih Secara Aklamasi Pimpin HIPMASIL Periode 2026–2028
Jumat Besok Hidayat Riadi Manik Bakal Dilantik Sebagai Anggota DPRK Aceh Singkil ‎
LMND Desak MPK Aceh Singkil Tinjau Ulang Syarat Beasiswa yang Larang Penerima KIP Kuliah
Sebanyak 17 Pelajar Dari Aceh Singkil Bertarung Di Ajang Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional (02SN) Tingkat Provinsi Aceh
Jadwal Penerbangan Bandara Syekh Hamzah Fanshuri 02 Juli ‎Jadwal Penerbangan di Bandara Syekh Hamzah Fansuri
Ketua DPRK H. Amaliun Hadiri Peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Apresiasi Komitmen Polri Layani Masyarakat
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:55 WIB

Merah Putih Serentak Berkibar Pemuda Desa Blok VI Baru Sulap Wajah Aceh Singkil Sambut HUT RI ke-81

Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:50 WIB

Hadirnya Jembatan Dua Penghubung Bukti nyata Kepedulian Presiden Prabowo dan Pengabdian TNI untuk Rakyat

Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:45 WIB

MUBES HIPMASIL Ke-X Sukses Digelar Amsyardin Maulana Putra dan Ali Kusuma Terpilih Secara Aklamasi Pimpin HIPMASIL Periode 2026–2028

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:53 WIB

Jumat Besok Hidayat Riadi Manik Bakal Dilantik Sebagai Anggota DPRK Aceh Singkil ‎

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:55 WIB

LMND Desak MPK Aceh Singkil Tinjau Ulang Syarat Beasiswa yang Larang Penerima KIP Kuliah

Berita Terbaru