*Tafakur Membangun Kesadaran Diri

- Penulis

Kamis, 26 Februari 2026 - 14:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandug Kompas1.id

*Oleh : Idat Mustari***
Seperti dalam tulisan sebelumnya”Menjeda Dunia,Merenungi Diri.” adalah upaya  mengingatkan diri pada satu penyakit zaman modern yang paling jarang disadari manusia: kelelahan jiwa di tengah kesibukan dunia. Manusia hari ini tidak kekurangan aktivitas, tetapi kekurangan kesadaran diri.

Nabi Muhammad Saw, sebelum menerima wahyu bukan mencari keramaian, bukan mencari popularitas, tetapi justru menjauh dari hiruk-pikuk masyarakat untuk memahami dirinya dan realitas kehidupan. Gua Hira bukan sekadar tempat fisik, melainkan simbol: bahwa kebenaran sering ditemukan bukan saat kita banyak berbicara, tetapi saat kita berani diam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di era sekarang, manusia hampir tidak pernah sendiri. Tangannya memegang ponsel, matanya menatap layar, pikirannya dipenuhi notifikasi, tetapi hatinya kosong. Kita sibuk mengetahui kehidupan orang lain, namun tidak mengenal keadaan diri sendiri.

Di sinilah makna tafakur menjadi sangat dalam. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi ibadah kesadaran. Banyak orang rajin beribadah, namun mudah marah, mudah menyakiti, mudah sombong. Itu tanda ibadahnya bergerak di badan, belum sampai ke hati.

Tafakur adalah jembatan antara ibadah dan akhlak. Ketika seseorang benar-benar merenung, ia akan melihat: betapa banyak nikmat yang selama ini tidak ia syukuri, betapa banyak kesalahan yang ia anggap benar,
betapa banyak ambisi dunia yang ternyata tidak membuatnya tenang.

Baca Juga:  JAJARAN POLSEK MARGAASIH POLRES CIMAHI MONITORING BALAPAN LIAR JELANG NGABUBURIT DI EXIT TOL SOROJA

Tentu saja ketika Rasulullah Saw menyatakan bahwa merenung sesaat lebih baik daripada ibadah setahun. Maksudnya bukan merendahkan ibadah, tetapi menegaskan bahwa ibadah tanpa kesadaran bisa menjadi rutinitas, sedangkan kesadaran melahirkan perubahan.

Ramadhan sebenarnya bukan sekadar bulan menahan lapar, tetapi bulan mengembalikan manusia kepada dirinya. Lapar hanya metode; tujuan sebenarnya adalah melembutkan hati. Saat dunia dijeda, barulah suara nurani terdengar.

Kita sering meminta kepada Allah agar hidup berubah, namun jarang memberi waktu kepada diri sendiri untuk bertanya: apa yang sebenarnya harus saya ubah dari diri ini.

Sering kita lupa, bahwa dalam hidup ini yang paling kita butuhkan bukan tambahan kesibukan, melainkan jeda. Sebab dalam jeda, itulah manusia menemukan arah. Karena kadang manusia tidak tersesat karena tidak punya jalan,tetapi karena terlalu cepat berjalan tanpa pernah berhenti melihat tujuan.

Semoga Ramadhan bukan hanya mengurangi makan kita, tetapi menambah kesadaran,terutama kesadaran bertaubat. ” _Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī.”_

Salam Takjim

**Penulis Buku Bekerja Karena Allah,Komisaris di BUMD Kab Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rumah Sakit Maranatha Grand Re-Opening Poliklinik Excekutive Komitmen Pelayanan Tanpa Diskriminasi untuk Seluruh Masyarakat
Sudut Tenang di Balik Cahaya Layar
Tubuh sebagai Kunci: Di Balik Janji Efisiensi Implan NFC dan Ancaman Privasi
PERSIB Bertahan di Bawah Tekanan, Bojan Hodak Soroti Titik
Dubai Mendadak Sunyi, Eksodus ‘Crazy Rich’ ke Bali Meningkat Pasca-Eskalasi Konflik
*Ali Syakieb: Pendidikan Berkualitas adalah Hak Semua Anak Indonesia*
Badai Plastik 2026: Ketika “Emas Transparan” Mengguncang Meja Makan hingga Manufaktur
*BPN Kabupaten Bandung Gelar Konsolidasi Bagian Roya, Perkuat Sinergi dengan Korsub Baru*
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 03:55 WIB

Rumah Sakit Maranatha Grand Re-Opening Poliklinik Excekutive Komitmen Pelayanan Tanpa Diskriminasi untuk Seluruh Masyarakat

Minggu, 19 April 2026 - 09:01 WIB

Sudut Tenang di Balik Cahaya Layar

Senin, 13 April 2026 - 03:05 WIB

Tubuh sebagai Kunci: Di Balik Janji Efisiensi Implan NFC dan Ancaman Privasi

Senin, 13 April 2026 - 02:04 WIB

PERSIB Bertahan di Bawah Tekanan, Bojan Hodak Soroti Titik

Sabtu, 4 April 2026 - 07:57 WIB

Dubai Mendadak Sunyi, Eksodus ‘Crazy Rich’ ke Bali Meningkat Pasca-Eskalasi Konflik

Berita Terbaru

Berita

Menembak Begal*

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:12 WIB