*Bekerja Dalam Pandangan Sufi*

Bandung17 Dilihat

Bandung Kompas1.id

*Oleh : Idat Mustari***
Sufi adalah penyebutan untuk orang-orang yang mendalami sufisme atau ilmu tasawwuf. Secara umum istilah “sufi” dikatakan berasal dari kata suf (صوف), yang artinya kain wol, merujuk kepada jubah atau khirqah yang biasa dikenakan para Sufi pada masa awal.

banner 336x280

Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah, sehingga ada juga yang berpendapat bahwa kata ini berasal dari kata saf, yakni barisan dalam sholat. Pendapat lain mengatakan kata ini berasal shafa (صفا), yang berarti “kemurnian”. Hal ini menaruh penekanan pada sufisme pada kemurnian hati dan jiwa.

Seringkali ada orang menganggap orang-orang sufi itu adalah mereka yang anti dunia. Dianggap sebagai pribadi yang hanya duduk di atas sajadah, tenggelam dalam zikir, shalat sampai kakiknya bengkak-bengkak dan menggantungkan hidup hanya dengan berdoa kepada Allah tanpa ikhtiar.

Padahal sufi yang benar adalah mereka yang belajar pada kisah Umar Bin Khatab ra yang pernah menegur keras orang-orang yang seharian habis di masjid tanpa bekerja. Hingga Umar Bin Khatab ra berkata pada mereka,”Ingatlah langit tidak menurunkan emas dan perak.”

Di jalan sufi, doa dan kerja saling melengkapi—bukan saling meniadakan. Imam Ibnu ‘Athailah, salah tokoh sufi besar, pengarang kitab Al-Hikam, memperingatkan bahaya meninggalkan pekerjaan tanpa syar’i, sambil berkata,”Keinginanmu meninggalkan usaha, padahal Allahmasih menempatkan di dunia sebab-akibat, adalah syahwat yang tersembunyi.” Artinya menghindari kerja sambil berlindung di balik dalih spiritual adalah bentuk lain dari keinginan nafsu yang disamarkan dengan jubah kesalehan.

Para sufi adalah pekerja keras, pekerja yang Tangguh seperti Abu Hanifah (imam besar fiqih) adalah pedagang kain. Junaid Al-Baghdadi punya toko pemotong kaca. Sari al-Saqathi adalah saudagar bangunan. Al-Qusyairi setiap hari bekerja, selalu berpuasa sunah dan bersedakah tanpa diketahui banyak orang. Ibnu Khatif belajar memintal benang dan menjualnya untuk menghidupi keluarganya.

Ini semua membuktikan bahwa dunia bukan lawan dari spiritualitas, selama hati tetap terhubung dengan Allah. Para sufi tidak meninggalkan dunia, tapi menggunakannya sebagai ladang amal dan sarana mengumpulkan bekal pulang ke kampung akherat.

Begitupun kata Nabi saw “Wala takunu kalla alan nas”. Janganlah sekali-kali kamu menjadi beban atas manusia lain.” Pernah suatu ketika ada seorang pemuda kuat sedang mencakul di ladang, lantas ada  sahabat berkata,”Seandainya ia ikut berperang maka pahalanya besar. Tapi Nabi saw menegaskan,”Jika ia bekerja untuk mencukupi dirinya dan keluarganya, maka itu adalah jihad di jalan Allah.”

Dengan demikian orang sufi adalah mereka yang bekerja, namun bekerjanya karena Allah. Bekerjanya disertai hati yang bersih dan pikiran jernih. Yang tahu bahwa setiap yang dilakukannya dimintai pertanggung jawaban bukan saja disini tapi kelak disana (akherat), karena bagi dirinya, bekerja itu adalah ibadah.
Wallahu’alam

**Penulis Buku Bekerja karena Allah dan Komisaris di BUMD Kab Bandung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *