Gugur Tertimbun Longsor Saat Latihan, Tangis Istri Hamil Empat Bulan Iringi Pemakaman Praka Marinir Hamid di Lampung

Berita, Lampung577 Dilihat

Kompas1.id || Tangis duka pecah di rumah almarhum Praka Marinir Hamid Dwi Ismail di Kelurahan Way Dadi Baru, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung, Minggu (1/2/2026) siang.

Di bawah langit mendung, kepergian prajurit muda Korps Marinir itu tak hanya meninggalkan kesedihan mendalam, tetapi juga menyisakan kisah pilu tentang mimpi keluarga kecil yang terhenti sebelum sempat terwujud.

banner 336x280

Usai dishalatkan di rumah duka, jenazah anggota Batalyon 9 Beruang Hitam Brigif 4 BS Lampung tersebut diusung menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat. Langkah para pelayat mengiringi peti jenazah dengan wajah tertunduk, seolah tak rela melepas kepergian Hamid untuk selama-lamanya.

Prosesi pemakaman dilakukan secara kedinasan militer. Dentuman tembakan salvo menggema di area pemakaman sebagai bentuk penghormatan terakhir dari negara kepada prajurit yang gugur saat menjalankan tugas.

Di sisi liang lahat, istri almarhum tampak tak kuasa menahan tangis. Tubuhnya bergetar ketika taburan tanah pertama dijatuhkan ke liang kubur. Di rahimnya, kehidupan baru tengah tumbuh—anak pertama mereka—yang kelak harus tumbuh tanpa sempat mengenal sosok ayahnya.

Praka Marinir Hamid Dwi Ismail gugur setelah tertimbun longsor saat menjalani latihan prapenugasan di Cisarua, Jawa Barat, pada 24 Januari 2026. Ia menjadi salah satu dari 23 prajurit Marinir yang meninggal dunia dalam peristiwa tragis tersebut.

Kepergian Hamid terasa semakin perih bagi keluarga. Ia meninggalkan seorang istri yang tengah mengandung empat bulan, di saat rumah tangga mereka baru memasuki fase paling bahagia.

“Dia itu lagi sayang-sayangnya sama istri. Istrinya lagi hamil empat bulan, anak pertama. Kami lagi senang-senangnya nunggu kelahiran cucu pertama, tapi Allah berkehendak lain,” ujar Yulianti, mertua almarhum, dengan suara bergetar.

Menurut keluarga, Hamid baru menikah sekitar satu tahun lalu. Ia dikenal sebagai sosok penyayang, bertanggung jawab, dan penuh harapan akan masa depan keluarganya.

Komunikasi terakhir Hamid dengan keluarga terjadi sehari sebelum kejadian. Tak ada firasat buruk. Ia hanya berpamitan dan meminta doa, sebagaimana kebiasaan sebelum menjalani latihan.

“Terakhir cuma bilang minta doa. Katanya latihan seperti biasa. Kami tidak menyangka itu jadi kabar terakhir,” tutur Yulianti lirih.

Hamid bersama rekan-rekannya tengah mengikuti latihan prapenugasan sebagai persiapan penempatan tugas di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini.

Selain Hamid, satu prajurit Marinir asal Lampung lainnya, Kopda Marinir Randa Pratama, juga telah dimakamkan oleh pihak keluarga di Desa Mandah, Kabupaten Lampung Selatan.

Secara keseluruhan, enam jenazah prajurit Marinir asal Lampung telah ditemukan dan dimakamkan di berbagai daerah di Provinsi Lampung. Empat prajurit lainnya—Praka Muhammad Kori, Serda Sidiq Hariyanto, Pratu Febry Bramantio, dan Praka Ari Kurniawan—lebih dahulu dimakamkan di Bandar Lampung, Lampung Timur, dan Lampung Utara.(Red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *