Aceh Singkil kompas1.id
Alfa Salam, Presiden Mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh (TDM), menyampaikan kecaman keras terhadap rencana pengadaan mobil dinas Bupati Aceh Singkil senilai Rp2,6 miliar yang bersumber dari APBK, yang direncanakan di saat rakyat Aceh Singkil masih berjibaku dalam fase pemulihan pasca bencana banjir. Keputusan ini merupakan tamparan keras bagi akal sehat publik dan menjadi bukti nyata kegagalan empati serta krisis nurani pemerintah daerah.
tengah kondisi masyarakat yang aktivitas ekonominya belum pulih, banyak warga masih berjuang, kehilangan penghasilan, dan bantuan belum sepenuhnya menjangkau seluruh korban, Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil justru mempertontonkan prioritas yang memalukan dan tidak bermoral. Anggaran yang sejatinya adalah uang rakyat dipergunakan bukan untuk menyelamatkan dan memulihkan kehidupan masyarakat, melainkan untuk mempertebal kenyamanan dan kemewahan pejabat
Klau tidak bisa berpihak kepada masyarakat yang sedang kesulitan maka turun dari jabatan
Rencana ini memperlihatkan wajah pemerintah daerah yang terputus dari realitas penderitaan rakyat, sekaligus menegaskan bahwa krisis kemanusiaan tidak dianggap sebagai kondisi darurat oleh para pengambil kebijakan. Rp2,6 miliar bukan angka kecil uang sebesar itu dapat digunakan untuk menyelamatkan ratusan keluarga korban banjir, memperbaiki infrastruktur darurat, serta mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak.
Alfa Salam menegaskan, apabila rencana pengadaan mobil dinas ini tetap dipaksakan, maka Bupati Aceh Singkil patut dinilai telah kehilangan legitimasi moral sebagai pemimpin rakyat. Kebijakan ini bukan hanya salah arah, tetapi menyakitkan, mencederai rasa keadilan publik, dan melukai hati masyarakat Aceh Singkil yang masih berjuang bangkit dari bencana.
Lebih jauh, Alfa Salam juga menyoroti bahwa setelah sebelumnya muncul isu pengadaan iPhone 16 Pro dan iPad pada tahun 2025 dengan pagu anggaran Rp90 juta, kini kembali muncul rencana mobil dinas Rp2,6 miliar pada tahun 2026. Rangkaian kebijakan ini semakin memperjelas bahwa Pemerintah Aceh Singkil lebih sibuk berhias dan berfoya-foya di balik tangisan rakyat yang ekonominya masih lumpuh.
“Kami melihat dengan sangat jelas bahwa orientasi kebijakan pemerintah hari ini tidak berpihak kepada rakyat. Ini bukan lagi soal administrasi anggaran, tetapi soal moral, empati, dan keberpihakan. Ketika rakyat diminta bersabar dan bangkit, pejabat justru memanjakan diri,” tegas Alfa Salam.
Oleh karena itu, Alfa Salam mengajak seluruh masyarakat Aceh Singkil untuk sadar, membuka mata, dan tidak lagi diam melihat kebijakan yang mencederai nurani publik. Masyarakat harus berani menilai dan mengoreksi pemimpinnya, karena pemimpin yang minim empati dan moral akan melahirkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat.
“Diam berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung. Aceh Singkil membutuhkan pemimpin yang hadir bersama rakyat saat susah, bukan pemimpin yang menikmati kenyamanan di atas penderitaan masyarakat,” tutupnya.
Reporter Sabri
Mobil Dinas 2,6 Miliar VS Rakyat Pasca Bencana Pemkab Aceh Singkil Tumpul Nurani Tajam ke Pasilitas Pejabat















