PN Bangli Akhiri Sidang, Gopel Divonis 3 Bulan Penjara Atas Penghinaan Desa Adat

- Penulis

Kamis, 18 Desember 2025 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANGLI – Kompas1.id
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bangli, memutuskan I Wayan Karmada alias Gopel vonis 3 bulan penjara atas dugaan kasus penghinaan Kertha Desa Adat Tegalalang, Sang Ketut Rencana. Putusan ini dibacakan di ruang sidang Candra pada Rabu, 17 Desember 2025, sekitar pukul 12.00 WITA.

Dalam sidang tersebut, majelis hakim yang dipimpin Widyastomo Isworo S.H. M.H., dengan anggota Risky S.H., dan Akbar S.H. M.H., menyatakan terdakwa Gopel secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan penghinaan ringan terhadap pejabat pemerintahan desa adat yaitu Kertha Desa Adat Tegalalang sebagaimana dalam dakwaan subsidair dengan menjatuhkan pidana penjara selama 3 bulan.

“Mengadili terdakwa  I Wayan Karmada secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penghinaan ringan sebagaimana dalam dakwaan subsidair dengan menjatuhkan pidana penjara selama 3 bulan serta menyatakan terdakwa untuk ditahan dan membayar biaya perkara sebesar lima ribu Rupiah,” ucap ketua majelis hakim.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di lain tempat, Sang Ketut Rencana, Kertha Desa Adat Tegalalang yang berperkara dengan terdakwa Gopel mengatakan kepada awak media bahwa vonis 3 bulan penjara yang diputuskan majelis hakim pengadilan negeri Bangli bukan hanya kemenangan bagi Desa Adat Tegalalang saja, tapi juga bagi seluruh desa adat di Bali.

“Vonis 3 bulan yang dijatuhkan majelis hakim PN Bangli kepada terdakwa menjadi kemenangan desa adat seluruh Bali, bukan hanya Desa Adat Tegalalang saja. Karena bagi siapapun yang tidak menghormati aturan desa adat setempat, berarti tidak menghargai Taksu Bali itu sendiri,” tegasnya.

Baca Juga:  Tim RI dan Malaysia Tinjau Batas di Sungai Kelik, Bahas Penentuan Titik Ikat dan Pembangunan PLBN

Sang Ketut Rencana berharap, kasus ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat untuk tidak melecehkan atau menghina petugas adat desa yang sedang menjalankan kewajibannya.

Sementara itu, Bendesa Adat Tegalalang, I Wayan Miarsa, mengatakan bahwa menjaga peraturan desa adat, budaya, dan kegiatan yang berhubungan dengan adat adalah kewajibannya. Karena sebagai bendesa adat, ia pun juga bertanggung jawab atas jalannya pemerintahan desa adat.

“Jadi, apabila ada oknum yang ingin menganggu Pararem desa atau bahkan melecehkan martabat serta integritas prajuru adat berarti mengganggu marwah desa adat itu sendiri,” tegasnya.

Diketahui, saat terdakwa Gopel ditanya ketua majelis hakim atas vonis yang dijatuhkan, penasehat hukum terdakwa menyampaikan sikap akan “pikir-pikir” atas keputusan tersebut.

Polemik itu bermula ketika Sang Ketut Rencana sebagai Kertha Desa Adat Tegalalang melaksanakan kewajibannya dengan menjalankan tugas yang diberikan untuk menanyakan maksud penebangan pohon kelapa di dekat Pura Melanting desa adat Tegalalang. Penebangan itu, seharusnya menghadirkan pecalang desa adat sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.

Saat sedang mengklarifikasi sesuai dengan tugasnya, justru Sang ketut Rencana mendapat pernyataan kasar yang dianggap melecehkan martabatnya oleh terdakwa Gopel ketika berada di tempat kejadian, padahal, Gopel sendiri bukan warga Desa Adat Tegalalang.

Pewarta: Agung Ch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

GEMPA MAGNITUDO 6,2 GUNCANG PARIGI MOUTONG SULAWESI TENGAH, TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI
Ketua DPR RI Puan Maharani: RUU Perampasan Aset Masih Terbuka Terima Masukan Masyarakat
HARI KEMERDEKAAN RI KE-81: SEMOGA BANGSA KITA SEMAKIN JAYA
Mengapa Negeri Muslim Justru Rentan Korup? Sebuah Refleksi Integritas dan Sistem
Mulai 17 Agustus, Balik Nama Sertifikat Tanah Ditargetkan Selesai Maksimal 10 Hari Kerja
Pembatasan Subsidi Pertalite: Kelompok Mampu Siap-Siap Gigit Jari
Skilau Mewah di Balik Bayang-Bayang: Skandal Berlian US$57 Juta Guncang Vietnam
BGN Temukan 414 Rekening SPPG Bermasalah, Rp311,2 Miliar Dana MBG Berhasil Dikembalikan ke Kas Negara
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 03:08 WIB

GEMPA MAGNITUDO 6,2 GUNCANG PARIGI MOUTONG SULAWESI TENGAH, TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI

Minggu, 16 Agustus 2026 - 02:03 WIB

Ketua DPR RI Puan Maharani: RUU Perampasan Aset Masih Terbuka Terima Masukan Masyarakat

Minggu, 16 Agustus 2026 - 01:25 WIB

HARI KEMERDEKAAN RI KE-81: SEMOGA BANGSA KITA SEMAKIN JAYA

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 01:00 WIB

Mengapa Negeri Muslim Justru Rentan Korup? Sebuah Refleksi Integritas dan Sistem

Jumat, 14 Agustus 2026 - 00:31 WIB

Mulai 17 Agustus, Balik Nama Sertifikat Tanah Ditargetkan Selesai Maksimal 10 Hari Kerja

Berita Terbaru